Hukum Mengambil dan Memanfaatkan Barang Temuan (Luqothoh)

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb..

Buya yang kami hormati, ada yg ingin sya tanyakan. Bagaimana jika kita menemukan barang remeh di jalan, misalnya uang seribu rupiah? Atau kita melihat ada buah yang jatuh sementara tidak ada yang mengambilnya? Terima kasih Buya, wassalamu’alaikum wr. Wb..

Buya Yahya Menjawab:

Wa’alaikumussalam wr. Wb..

Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah, semoga Allah memberikan kepada kita semua akhlaq yang mulia. Adapun barang temuan ada jawaban kami secara khusus tentang luqothoh (atau barang temuan) yang sudah kami sampaikan di beberapa tempat pengajian dengan panjang dan lebar. Kami menghimbau untuk mengetahui barang subhat tidak bisa dengan kira-kira. Akan tetapi contohnya harus jelas seperti apa barangnya. Contoh pemberian hadiah dari orang yang pekerjaannya ada yang halal dan haram. Maka barang tersebut hukumnya subhat. Disebut subhat karena mungkin sekali diambil dari yang halal dan mungkin dari yang haram. Barang subhat seperti ini boleh diambil dan tidak haram tetapi tidak bisa di sebut halal akan tetapi lebih baik tidak diterima. Kami himbau kepada semua untuk menganggap dan menyebut barang sebagai barang subhat harus kita hadapkan kepada ulama contohnya dengan jelas agar dijelaskan hukumnya.

Adapun barang temuan adalah bukan milik kita dan tidak bisa di sebut subhat akan tetapi hukumnya ada yang haram dan ada yang halal untuk di ambil dan di manfaatkan.

Barang temuan ada dua:

  1. Barang yang tidak berharga yang diperkirakan yang kehilangan tidak akan mencari-cari, seperti uang seribu rupiah di tahun 2013, itu kalau ada orang kehilangan biasanya yang kehilangan tidak akan mencarinya. Maka jika barang yang remeh seperti itu cukup ia suarakan di tempat tersebut siapa yang kehilangan lalu jika tidak ada yang menyambutnya maka boleh dan halal dimanfaatkan.
  2. Jika barang tersebut bernilai diperkirakan yang kehilangan akan menyesal dan mencarinya maka barang tersebut tidak boleh di manfaatkan kecuali diumumkan di tempat-tempat yang ramai seperti di depan pasar atau depan masjid setiap hari di minggu pertama, setiap minggu di bulan pertama, kemudian setiap bulan hingga genap setahun, baru setelah itu boleh dan halal di manfaatkan. Sebagian ulama ada yang mengatakan sampai 2 tahun.

Catatan:

  • Maksud dimanfaatkan adalah kita gunakan sesuka hati kita akan tetapi jika yang punya datang lalu meminta barang tersebut kita wajib menggantinya. Bernilai dan tidaknya sebuah barang temuan dikembalikan kepada kebiasaan dan anggapan masyrakat setempat.
  • Maka dari itu lebih baik barang tersebut tidak diambil akan tetapi diserahkan di tempat pengumpulan barang temuan yang sudah di siapkan oleh negara(jika ada).
  • Mangga di bawah pohon bukan barang temuan sebab ada pemiliknya. Atau uang receh di rumah seseorang juga bukan barang temuan tetapi milik yang punya rumah. dalam hal ini ada hukumya sendiri dan bukan masuk hukum barang temuan.

Wallohu a’lam bishshowab.

Oleh: Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al Bahjah Cirebon.

Tulisan berjudul Hukum Mengambil dan Memanfaatkan Barang Temuan (Luqothoh) terakhir diperbaharui pada Saturday 2 May 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


3 thoughts on “Hukum Mengambil dan Memanfaatkan Barang Temuan (Luqothoh)

  1. Assalamu’alaikum Pak ustad,kalau barang temuan sudah kita jual terus uangnya masih kita simpan hukumnya apa,
    Barang temuannya handphone tapi dulu sudah saya hapus datanya,sikap apa yang harus saya ambil pak ustad,apakah jika uangnya disumbangkan ke masjid tetap akan dosa dan haram,saya takut sekali pak ustad tentang hal ini,mohon pencerahanya .terima kasih
    Wassalamu’alaikum

    Reply
  2. Saya mau nanya, bberapa tahun yang lalu saya menemukan hape nokia tipe 1112 di pasar dan saya mengambil hp itu. nah sekarang saya mau mengembalikan hp itu tapi saya tidak tau pemilik nya.
    itu hukum nya bagaimana ?

    Reply

Post Comment