Kisah Islam: Sebuah Ketulusan Kunci Menggapai Hidayah dan Kemulian

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Imam Muslim rahimahullah mengabadikan sebuah kisah yang disampaikan oleh Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Kisah sebuah ketulusan kunci mendapatkan hidayah dan kemuliaan.

Disebutkan bahwa Rasululullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bercerita tentang seorang Kiai yang sangat gemar beribadah. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari kebisingan kota, di atas gununglah yang jadi pilihannya. Cukup lama ia berada di tempat tersebut hari-harinya adalah hanya untuk bersujud dan berdzikir kepada Allah.

Ditempat yang berbeda, yaitu di tengah kebisingan manusia mencari dunia hiduplah seorang pemuda yang bergelimang dalam dosa dan kenistaan. Ia adalah preman pasar yang dalam kesehari-harianya adalah menimbun dosa.

Pada suatu ketika sang Kiai yang di atas gunung tersebut kehabisan bekal makanan, maka iapun harus segera turun ketengah pasar untuk membeli bekal makanan secukupnya. Dalam waktu yang bersamaan, preman pasar yang terkenal dengan kejahatanya tersebut tiba-tiba tergerak hatinya untuk bertemu dengan Kiai yang tinggal di atas gunung. Ia meyakini ia adalah orang sholeh dan kedatangannya pun adalah untuk tujuan yang amat mulia yaitu ingin mendengar nasehat dan mendapatkan bimbingan dari sang Kiai. Maka iapun mengambil keputusan untuk pergi ke atas gunung untuk menemui orang tersebut.

Karena waktu untuk memenuhi keperluan dua manusia tersebut adalah sama maka mau tidak mau mereka harus berpapasan di tengan jalan. Di pegunungan yang ada adalah jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu orang berjalan, jika ada orang lain yang datang dari arah berlawanan maka salah satu dari mereka harus mengalah. Begitulah pemandangan yang terjadi pada saat itu antara sang Kiai yang ahli ibadah dan preman yang ahli maksiat.

Suasana yang amat mengagetkan sang preman saat itu, berpapasan dengan orang yang dikagumi dan dihormati di tempat yang tidak diduga yaitu di tengah jalan setapak. Ia merasa belum siap bertemu di tempat tersebut, ia ingin bertemu dengan sang Kiai di rumah dan tempat ibadahnya dan bukan di jalan. Sang preman merasakan di dalam dirinya ada rasa takut, kagum dan hormat bercampur menjadi satu. Itulah yang menjadikan sang preman terduduk di jalan setapak tanpa ia sadari. Ia tidak mampu bertutur kata sepatah katapun dan ia hanya mampu memberi isyarat dengan tangannya kepada Kiai tersebut yang maksudnya “Silakan melewati jalan setapak ini!”. Sang Kiai pun berlalu dan mata sang preman pun tidak berpindah dari sang Kiai hingga lenyap dari pandangannya.

Suasana lain dirasakan sang Kiai di saat matanya tertuju kepada sang preman yang berdiri di jalan setapak. Ia merasa risih dengan pemandangan itu maka ia pun melewati sang preman dengan kesombonganya. Ia tidak mengucapkan salam kepadanya. Ia tidak bertanya keperluan dan tujuan sang preman ke atas gunung. Yang ada adalah keangkuhan dan kesombonganya karena merasa dia adalah Kiai dan ahli ibadah yang seolah benar-benar lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu ia memandang sang preman dengan mata merendahkan dan meremehkan. Di tengah-tengah cerita ini Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menjelaskan bahwa karena kesombongan sang Kiai tersebut maka Allah mencabut hidayah dari hatinya. Dan karena keinsyafan, kekaguman dan rasa hormat sang preman kepada Kiai itu maka Allah memberikan hidayah kepadanya dan mengangkatnya menjadi kekasihnya.

Itulah penjelasan dari Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bahwa orang yang katanya ahli ibadah, alim, sholeh akan tetapi jika itu semua menjadikan ia merendahkan orang lain maka hal itu akan menjadikan sebab dicabutnya hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitu sebaliknya biarpun seseorang bergelimang dalam kejahatan dan kemaksiatan akan tetapi ada keinsyafan, kekaguman dan cinta di hatinya kepada Kiai, orang sholeh dan ahli ibadah, maka hal itu akan menjadikan sebab mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Itu adalah cerita dari Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam untuk kita,yang isinya adalah nasehat dan peringatan bagi kita. Kita harus melihat diri kita, sebagai apa kita? Menginsyafi keberadaan kita. Jika kita sebagai ustadz harus insyaf dengan posisi ini dengan senantiasa memandang orang yang belum mengerti dengan mata kasih dan cinta, bukan dengan kesombongan dan keangkuhan. Jika kita adalah orang yang tidak mengerti atau banyak dosa maka kita harus menyadari kekurangan ini dengan senantiasa berusaha untuk bisa dekat dan mencintai para ulama dan orang soleh. Itulah pintu hidayah untuk mendapatkan kemuliaan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang akan menjadikan Kiai semakin terlihat santun dan indah dalam mengajak kepada kebaikan yang pada akhirnya menjadikan orang yang berada di jalan yang salah mudah untuk mencintai para Ulama dan mudah untuk mendapatkan petunjuk. Terlihat pemandangan indah dari yang mengajak dan yang diajak, dan di sinilah sebab mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu A’lam Bishshowab.

Oleh: Almukarrom Buya Yahya, Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat.

Tulisan berjudul Kisah Islam: Sebuah Ketulusan Kunci Menggapai Hidayah dan Kemulian terakhir diperbaharui pada Sunday 31 May 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment