Mendidik dengan Kelembutan

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Sikap kita dalam mendidik seseorang semisal sebagai orangtua dalam mendidik anaknya atau seorang guru dalam mendidik murid-muridnya atau para pendidik yang lain perlu mendapat perhatian. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah mencontohkan bagaimana cara tarbiyah atau mendidik yang semestinya menjadi pegangan bagi orangtua, guru, atau para pendidik.

Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam shalat dan menjadi Imam. Ketika berada di tengah-tengah shalat tiba-tiba ada salah seorang jamaah yang bersin dan mengucapkan, “Alhamdulillah” dengan nada yang keras. Mendengar ada yang bersin dan berucap Hamdalah, lantas orang Arab Badui (yang bernama Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami) pun membalas dengan doa, “Yarhamukalloh” dengan suara yang keras pula. Orang Badui ini menjawab dengan suara lantang karena hendak memberitahu Sahabat Nabi yang lain agar ikut membalas mendo’akan orang yang sedang bersin itu. Sontak, para Sahabat yang sedang shalat mengarahkan pandangan dan melirik kepada orang Badui tersebut karena ia berkata di dalam shalatnya. Orang Badui ini kemudian meneriaki para Sahabat yang meliriknya, “Hei kamu, lihat-lihat aku ada apa?!”. Lalu para Sahabat yang tak sabar melihat tingkah orang Badui yang berbicara dalam shalatnya ini hanya bisa memukul-mukul paha mereka. Para Sahabat tahu ketika dalam keadaan sedang shalat itu tidak boleh berbicara sehingga hanya menepuk pahanya sebagai isyarat agar orang Badui itu diam. Maka orang Badui ini pun paham maksud para Sahabat dan ia pun terdiam.

Begitu shalat usai, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam memanggil dan berkata, “Siapa tadi yang berbicara ketika shalat?”. Orang Badui ini pun angkat tangan. Lalu Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam hanya berkata, “Sesungguhnya di dalam shalat ini tidak selayaknya ada sesuatu dari ucapan manusia, sesungguhnya shalat itu adalah tasbih, takbir, bacaan al-Qur’an, dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”. Lihatlah bagaimana akhlak dan adab teladan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam yang tidak membentak, memarahi, memaki, atau menghina kepada orang Badui yang salah ini. Lantas orang Badui itu memuji Rasulullah, “Demi Allah, belum pernah aku melihat seorang pendidik yang lebih baik cara mendidiknya daripada beliau. Semoga Allah senantiasa memberikan shalawat dan salam kepada beliau”.

Duhai saudara/ saudariku, perbuatan yang salah yang dilakukan oleh anak, murid, atau anak didik itu, yang pertama kita tidak boleh melihat kepada kesalahan orang itu dengan pandangan yang merendahkan orang tersebut. Sesuatu yang salah itu yang mestinya dibetulkan, tetapi kalau orang yang salah kemudian dipandang rendah, dihina, dimaki, dan dimarahi maka yang ada justru malah membuat orang tersebut berkeingingan untuk berbuat mengulangi kesalahannya lagi.

Tidaklah dipergunakan kelembutan kepada kekasaran (kekerasan) kecuali kelembutan itu pasti menang. Dan tidaklah digunakan kekasaran (kekerasan) kepada sesuatu (kecuali) pasti mendatangkan keburukan. Konsep kaidah yang Nabi tetapkan. Bersikap lemah lembut bilamana digunakan pasti akan berkesan, minimal tidak mendatangkan mudharat. Tetapi jika menggunakan kekasaran (kekerasan) meskipun bertujuan baik pasti akan mendatangkan kemudharatan. Jadi, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam di dalam cara mendidik adalah dengan kelemahlembutan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang dapat meneladani Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dalam hal mendidik anak-anak kita, murid-murid kita, dan anak didik kita yang lain dengan penuh kelembutan sebagaimana yang dicontohkan manusia termulia Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Duhai Yang Maha Lembut terhadap hamba-hambaNya, karuniakanlah kepada kami hati yang lemah lembut dan jauhkan kami dari hati yang keras.

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid, Pengasuh Majelis Ta’lim Darul Murtadza Malaysia)

Tulisan berjudul Mendidik dengan Kelembutan terakhir diperbaharui pada Wednesday 27 May 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment