Dua Pangkal Akhlak dan Cabang-Cabangnya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Ulama ahlussunnah wal jama’ah (aswaja) Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali rahimahullah berkata, “Pangkal akhlak, akhlak apapun di dunia ini kembali pada dua pangkal. Pangkal yang pertama adalah keberanian dan yang kedua adalah pengendalian diri”.

Pangkal akhlak di dunia ini, semua akhlak yang baik kembali kepada dua pangkal saja. Pangkal yang pertama adalah keberanian, dan keberanian ini mencabangkan sejumlah cabang-cabang lagi, dan cabang itu mencabangkan lagi cabang-cabangnya, begitu seterusnya.

Sebagai contoh, pangkal keberanian mencabangkan sebuah kedermawanan. Apa hubungannya antara kedermawanan dengan keberanian? Coba kita perhatikan apa yang mencegah seseorang untuk melakukan sedekah? Jawabannya, takut miskin. Di saat kita hendak bersedekah, hati kita berbisik, “Mungkin Saya membutuhkan uang ini” atau berkata, “Mungkin nanti ada masalah (keuangan)”, dan lain sebagainya. Akhirnya kita tidak jadi bersedekah. Yang mencegahnya adalah karena alasan takut miskin. Rasa takut ini lawannya adalah keberanian. Jika demikian, apabila ada seseorang yang mau mengeluarkan sedekah dan bisa melawan ketakutan (takut miskin) yang ada dalam dirinya maka itu berarti ia memiliki keberanian. Oleh karena itu, kita katakan di sini kedermawanan merupakan cabang dari keberanian.

Dari kedermawanan ini kemudian akan muncul cabang baru yang dinamakan al-I-tsar (الإيثار).  Dan I-tsar ini mempunyai derajat yang lebih tinggi dari kedermawanan. Ada sesuatu yang berlebih dari hartamu lalu kamu memberikannya, maka itu dinamakan kedermawanan. Akan tetapi Itsar adalah keberanian yang lebih kuat, dan itu lebih khusus dan lebih tinggi dari kedermawanan. Itsar adalah apabila anda memberikan sesuatu kepada orang lain sedangkan anda sendiri membutuhkannya. Anda tetap memberikannya padahal anda yakin anda membutuhkannya bukan cuman kemungkinan. Sedangkan kedermawanan adalah anda memberikan sesuatu sedangkan anda kemungkinan membutuhkannya. Itulah bedanya Itsar dengan kedermawaan.

Misal, anda mempunyai makanan satu piring di rumah, yakin makanan sepiring ini adalah makan malam anda satu-satunya dan tidak memiliki makanan yang lain lagi. Anda sedang lapar saat itu sehingga anda tentu memerlukan makan malam tersebut. Di sini jelas tergambar bahwa anda yakin dipastikan membutuhkan makanan tersebut. Kemudian anda melihat tetangga, anda mengetahui tetangga anda itu juga lapar dan tidak memiliki makanan untuk santap malam. Anda ambil makanan anda itu lalu diberikannya kepada tetangga tersebut. Akibatnya anda tidak punya makan malam padahal anda membutuhkan makanan itu dan kemungkinan anda akan bermalam dengan kelaparan. Inilah Itsar, yakni anda mendahulukan tetangga anda dengan makanan ini padahal anda sendiri sangat membutuhkannya. Maka Itsar ini mempunyai derajat yang lebih tinggi ketimbang berderma

Di atas Itsar ada lagi yang lebih tinggi yaitu pengorbanan. Sebelumnya telah dikatakan keberanian adalah pangkalnya, mempunyai cabang kedermawanan, dan kedermawanan membuahkan cabang al-Itsar ketika seseorang makin naik tingkat kedermawanannya. Dan al-Itsar ketika makin meningkat maka akan membuahkan pengorbanan.

Lalu, apakah pengorbanan itu? Pengorbanan di sini adalah anda memberikan sesuatu atau mengorbankan sesuatu dan yakin akan berdampak menimbulkan mara bahaya. Jika anda nekat melakukan hal itu maka anda akan kehilangan sesuatu. Demi menyelamatkan orang lain, anda sampai mengorbankan waktu, harta, dan diri anda sendiri. Dan inilah yang dinamakan pengorbanan. Jadi, tahapannya adalah keberanian menghasilkan kedermawanan, kemudian kedermawanan menghasilkan Itsar, dan Itsar menghasilkan pengorbanan. Ini adalah pangkal akhlak dan cabang-cabangnya.

Begitu juga pangkal kedua, yaitu pengendalian diri. Ada perbedaan pokok antara keberanian dengan pengendalian diri. Keberanian adalah sebuah sifat yang biasanya berhubungan dengan dorongan untuk melakukan suatu perbuatan, terkadang juga berhubungan dengan meninggalkan suatu perbuatan. Sedangkan pengendalian diri adalah sifat menahan diri. Sehingga kita dapat katakan keberanian adalah mengajukan perbuatan pada tempatnya, dan pengendalian diri adalah menahan diri pada tempatnya.

Untuk menggambarkannya mari kita ambil contoh. Ada seseorang yang mempunyai peluang atau kesempatan untuk melakukan sesuatu semisal memakan makanan yang bukan miliknya atau mengambil saldo uang yang bukan miliknya atau menerima uang suap dalam sebuah transaksi dengan imbalan melancarkan transaksi. Melihat kondisi ini nafsu kita menginginkan makanan itu, ingin mengambil saldo tersebut, atau mau menerima suap tersebut. Intinya kita itu menginginkan harta itu, perlu dengan uang itu atau berselera dengan harta itu, meminta dan menginginkan harta itu. Maka nafsu mulai bereaksi dengan mendorong suatu perbuatan. Tapi, kemudian datanglah sifat pengendalian diri dan mengatakan, “Jangan diambil, ini haram“. Sifat itu menegur dan mencegah reaksi hawa nafsu kita, maka nafsu tertahan.

Kebalikannya keberanian, jika datang suatu masalah, seseorang merasa akan mendapat bahaya. Seorang gadis misalnya yang sedang berjalan di suatu daerah, lalu tiba-tiba datang orang yang kuat yang berniat buruk dan dzalim kepadanya dan ingin menyerangnya. Lalu gadis itu meminta pertolongan kepada anda, “Wahai orang baik, tolonglah Saya. Si Fulan ini ingin menyerang saya…”. Anda yang dimintai pertolongan oleh gadis itu melihatnya dan ternyata orang itu lebih kuat dari anda baik secara fisik maupun kekuatan. Dan anda tahu bahwasanya anda semestinya maju untuk menyelamatkan gadis itu. Dan anda pun tahu jika melakukannya akan mendapatkan bahaya, kemungkinan orang itu akan memukul anda, melukai, bahkan menyerang anda. Di sini hawa nafsu akan mengajak anda untuk menahan diri dan keberanian akan mengajak anda untuk maju. Kebalikannya pengendalian diri akan mengajak anda untuk menahan diri sementara nafsunya mengajak untuk maju. Maka keberanian dalam hal kasus ini adalah mendorong dan mengajak perbuatan pada tempatnya sedangkan pengendalian diri juga menahan diri pada tempatnya.

Ibarat sebuah bangungan rumah maka akan ada pondasi dan tiang-tiangnya yang tersusun dari batu demi batu. Pangkal diumpamakan seperti pondasi dan cabangnya adalah tiang-tiangnya. Begitu pun dengan keberanian dan pengendalian diri yang merupakan pangkal seperti pondasi bangungan dan cabang-cabangnya seperti tiang bangunan, hingga sampai ke suatu saat maka dua tiang tadi memerlukan atap. Atap adalah sebuah sifat akhlak hasil dari pencampuran antara pengendalian diri dan keberanian.

Jika seseorang semakin meningkat dalam sifat keberaniannya, maka akan bercabang, dan bercabang hingga sampailah ia ke atap keberanian. Dan begitu pula berdirinya bangunan pengendalian diri, meningkat, dan meningkat hingga sampai ke atap pengendalian diri. Tiang keberanian dan tiang pengendalian diri memerlukan atap. Dan atap ini adalah penggabungan dari kesempurnaan akhlak yang kita perlukan. Anda akan dapatkan di atap ini pencampuran antara cabang keberanian dan cabang pengendalian diri hingga membuat anda terdiam. Ini adalah buah hasil keberanian dan pengendalian diri, yang jika bergandengan akan menghasilkan apa yang dinamakan tabayun (konfirmasi). Ini adalah salah satu nilai akhlak yang umat telah kehilangannya yang membuat kalian menyesal atas perbuatan anda.

Datang berita bahwa si Fulan melakukan ini dan itu. Dikatakan Fulan datang lalu mencaci dan menjelek-jelekan anda begini dan begitu. Nafsu anda tergerak maju melakukan sesuatu, ingin membalasnya.

Datang berita bahwasanya saudara anda telah berkhianat. Si Fulan menjelekan-jelekan anda dengan mengatakan anda itu begini dan begitu. Di sini nafsu anda tidak mengajak anda untuk membalas dendam tetapi mengajaknya ke perkara yang lain yaitu memutus hubungan anda dengan orang itu. Menjadikan anda tidak suka duduk dengannya, tidak mau berhubungan dengannya, dan tidak ingin melihatnya. “Cukup sudah! Saya tidak ingin melihatnya, Saya tidak ingin berhubungan dengannya“. Di sini nafsu anda mengajak kemana? Keberanian untuk maju atau menahan diri? Menahan diri, dulu anda berhubungan dengannya lalu nafsu mengajak anda untuk tidak berhubungan dengannya. Di sini tabayun mengendalikan keberanian yang bukan pada tempatnya dan menahan diri yang bukan pada tempatnya. Tunggulah dan pastikan dulu dan tabayunlah. Mungkin berita yang sampai kepada anda itu tidak benar, mungkin tidak detail, mungkin ada orang yang ingin memfitnah antara diri anda dengan saudara anda, mungkin ada orang yang ingin menghancurkan kebaikan yang Allah berikan melalui tangan anda atau tangan saudara anda. Mungkin ini dan mungkin itu, dan lain-lain. Seseorang perlu untuk mencari kepastian. Oleh karena itu, dahulu mereka mengajarkan kepada para hakim di pelajaran kehakiman, di kitab adab kehakiman. Mereka mengatakan kepadanya, jika datang kepada anda seeorang yang terluka, mengadu sambil menangis, matanya telah keluar dan mengalir darah darinya, hingga matanya lepas, satu matanya terlepas dan dia mengatakan, “Fulan bin Fulan yang mencongkel mata saya”. Anda jangan terburu-buru menghukumi Fulan sebelum anda duduk dengannya, karena kemungkinan ada orang lain yang tercongkel juga matanya. Mungkin orang yang mengadu telah mencongkel mata orang lain, bukan cuma satu mata. Disini muncul nilai tabayun. Dan tabayun adalah sifat yang tinggi, dimana umat sekarang telah kehilangannya. Dan inilah salah satu penyebab goncangnya umat ini di hadapan umat yang lain. Salah satu penyebab jatuhnya umat Islam sekarang ini adalah hilangnya nilai tabayun. tabayun dan akhlak yang lain yang termasuk dari bagian atap akhlak. Dan atap akhlak adalah keberanian dan pengendalian diri, jika terbangun dan tergabung diantara keduanya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kita semua agar dapat memegang perkara ini, dan membuat dada kita luas, membuat derajat kita naik. Duhai Allah, hidupkanlah akhlak beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam pada diri kami, kuatkan cahayanya di hati dan anggota badan kami. Duhai Allah, kami memohon sebuah pandangan ke hati kami, tidaklah engkau meninggalkan hati kami kecuali sudah penuh dengan cahaya kejujuran dalam menghadapMu, mencintaiMu, mengikuti kekasihMu Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, dan cahaya yang kita persiapkan untuk mendapatkan kecintaan, penghapusan dosa dan penutupan aib.

Duhai Allah, kami memohon kepadaMu supaya memberikan kami kesempurnaan akhlak, berilah kami petunjuk ke akhlak yang baik, yang tidak bisa memberi petunjuk kecuali Engkau, dan jauhkan kami dari keburukan akhlak, yang tidak bisa menjauhkannya kecuali Engkau.

Duhai Allah, kami memohon segala kebaikan yang diminta oleh hambaMu Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, dan hamba-hambaMu yang sholeh. Dan kami berlindung kepadaMu dari segala keburukan yang NabiMu Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam meminta perlindungan kepadaMu, juga hamba-hambaMu yang sholeh.

Duhai Allah, berikan ketakwaan pada jiwa kami, sucikanlah karena Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau pelindung dan Tuhannya. Duhai Allah, pancarkanlah ke hati kami cahaya cinta kepada NabiMu, dan jadikan beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam lebih kami cintai dari istri kami, anak-anak kami, orangtua kami, harta-harta kami, dan seluruh manusia, juga diri kita sendiri. Duhai Allah, berikan kami kesempurnaan cinta hingga kami sampai ke derajat para pecinta secara dzohir dan batin.

Duhai Allah, siapkan umat Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam perkara yang baik, ahli taat menjadi mulia karenanya, dan ahli maksiat taubat karenanya. Jadikan kami sebaik-baik umat untuk umat yang lain, paling rahmatnya umat untuk umat yang lain, paling berkahnya umat diantara umat yang lain, dan jadikan ucapan terakhir kami di dunia ini adalah La Ilaha Illa Allah Muhammadur Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, yang kita merealisasikan dengan hakikat syahadat itu, baik dzohir maupun batin, dengan rahmatMu Ya Arhamar Rohimin.

(Disarikan dari majelis kuliah yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zainal ‘Abidin bin ‘Abdurrahman al-Jufri Yaman).

Tulisan berjudul Dua Pangkal Akhlak dan Cabang-Cabangnya terakhir diperbaharui pada Tuesday 2 June 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment