Kisah Hikmah: Seorang Pria Buta dengan Kekasihnya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Kisah ini berawal dari seorang pria buta yang membenci dirinya sendiri dikarenakan kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya seorang. Kekasihnya itu selalu berada disampingnya untuk menemani, menjaga, dan menghiburnya. Dia pun berjanji akan menikahi kekasihnya ini bilamana suatu ketika dia sudah bisa melihat dunia.

Pada suatu hari, ada seseorang yang dengan sukarela mendonorkan sepasang mata kepada sang pria buta tersebut sehingga akhirnya dia bisa melihat dunia ini lagi dan termasuk bisa melihat kekasihnya juga.

Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?

Pria itu kaget dan terguncang hatinya saat melihat bahwasanya kekasihnya yang selama ini menjaganya ternyata seorang wanita buta. Dia pun menolak untuk menikahi kekasihnya itu. Tak ayal, kekasihnya begitu kecewa dan akhirnya pergi meninggalkannya dengan hati yang hancur dan berlinang air mata, kemudian dia dengan susah payah menulis secarik kertas yang isinya singkat kepada pria itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik kedua bola mataku“. Masya Allah….

Kisah di atas memang pendek tetapi memiliki makna yang mendalam dan banyak memberikan pelajaran kepada kita. Dalam cerita ini diperlihatkan bagaimana pikiran manusia yang begitu cepat sekali berubah di saat apabila status hidupnya sudah berubah menjadi baik. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya, dan jauh lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa dia harus berterima kasih dan membalas budi karena telah menopangnya pada saat dia dalam kesusahan.

Mari kita renungkan duhai saudara/ saudariku. Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar, ingatlah akan seseorang yang tidak “bisa berbicara”. Sebelum engkau mengeluh tentang cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya sesuatu apapun untuk “dimakan”. Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu, ingatlah akan seseorang yang menangis sebab dia “kehilangan” pasangan hidupnya. Sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat sudah “dipanggil kembali kepada Allah”. Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu, ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi belum “mendapatinya”.

Hidup ini adalah Anugerah, sebab itu bersyukurlah selama engkau masih hidup dengan apapun yang engkau punyai. Renungkan…. begitu banyak nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita selama hidup kita di dunia ini, namun sudahkan kita mensyukurinya atau malah sebaliknya selalu berkeluh kesah?

Syukur sebagaimana diungkapkan oleh para ulama dibagi menjadi 3 bagian, yaitu syukur dengan hati, syukur dengan lisan, dan syukur dengan anggota badan. Syukur dengan hati, yakni kita sadar dan mengakui bahwa kenikmatan yang kita dapatkan itu sesungguhnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada sesuatu nikmat pun yang diterima oleh seseorang kecuali itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara syukur dengan lisan, yakni dengan kita mengucapkan kalimat Hamdalah atau Alhamdulillah. Dikatakan tidaklah seorang hamba yang dia itu dikasih satu nikmat oleh Allah kemudian ia mengucapkan Alhamdulillah atas nikmat itu terkecuali ia telah menunaikan syukurnya atas nikmat tersebut kepada Allah. Dan yang terakhir, syukur dengan anggota badan, yakni dengan kita mensyukuri nikmat itu dengan melakukan amalan kebaikan. Jadi, kita bersyukur dengan hati kita yang mengakui nikmat itu, lisan kita yang mengucapkan Alhamdulillah, dan menggunakan nikmat itu dengan kita berbuat dan beramal yang baik.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang senantiasa bersyukur dan bukan hamba yang kufur, dan dimudahkan kita menjadi orang yang lisan kita selalu memuji kepada Allah Ta’ala, mengucapkan kalimat Hamdalah, kemudian diikuti dengan anggota tubuh kita atas nikmat yang Allah berikan kepada kita, dijadikan tubuh kita bergerak berbuat dengan amal yang menandakan kita bersyukur atas nikmat tadi.

Oleh: Hamba Allah.

Tulisan berjudul Kisah Hikmah: Seorang Pria Buta dengan Kekasihnya terakhir diperbaharui pada Sunday 7 June 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment