Sikap Tawadhu

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam al-Qru’an Surat asy-Syu’ara’ ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ

Dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Dari ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, “Duhai Muhammad Rasulullah, rendahkanlah sayapmu“. Ini perintah Allah Ta’ala kepada baginda Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam untuk meletakan sayapnya sebagai bentuk bertawadhu atau rendah hati.

Lalu, kepada siapakah beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam disuruh bertawadhu? Apakah kepada guru Rasulullah? Atau kepada siapapun maksud dari ayat tersebut meskipun Rasulullah adalah afdholu kholqi ajma’in (sebaik-baik makhluk)? Coba tengok, adakah orang yang lebih baik dari Rasulullah?

Di situ Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam untuk merendahkan sayapnya kepada orang-orang yang mengikutinya, yakni orang-orang yang beriman. Jangan takabur (sombong) kepada orang-orang yang beriman.

Kalau Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam diperintahkan oleh Allah untuk merendahkan sayap, bersikap tawadhu kepada semua orang yang beriman, baik imannya tinggi maupun yang rendah, menggeneralkan dalam ayat tersebut untuk bertawadhu, lalu bagaimana dengan kita yang kedudukannya jauh dan sangat jauh dari Rasulullah? Kedudukan kita bahkan tidak sampai sebesar debu bila dibandingkan dengan kedudukan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, kok hendak bertakabur kepada orang lain? Siapakah diri kita ini yang menganggap lebih baik dari orang lain? Sementara orang yang paling dicintai oleh Allah sebagai sebaik-baik makhluk diperintahkan untuk bertawadhu kepada semua makhluk. Lalu, apa hak kita sampai bisa berbuat merendahkan orang lain?

Lihatlah duhai saudara/ saudariku, perhatikan di sekitar kita di akhir zaman sekarang ini, zaman yang penuh fitnah meraja lela di mana-mana, disadari atau tidak terkadang kita suka merendahkan orang lain baik dengan perkataan kita atau pun melalui tulisan kita seperti di Whatsapp, ataupun melalui komentar-komentar yang ada di Facebook, Twitter, dan situs-situs lain. Siapakah kita berani berbuat merendahkan orang lain sedangkan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam yang diutus untuk kita diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bersikap tawadhu. Mari belajarlah dari ajaran yang Allah ajarkan kepada Rasulullah untuk bertawadhu, merendahkan hati, insya Allah kita akan diangkat derajatnya oleh Allah di dunia ini, sebelum nanti di alam barzakh dan sebelum di akhirat kelak. Akan tetapi, jika sebaliknya kita bersikap takabur dan sombong di atas muka bumi ini maka tidak akan ada kedudukan yang nyata yang akan diperolehnya di dunia apalagi nanti di alam barzakh dan akhirat kelak. Semoga Allah melindungi kita dari sifat takabur.

Hamba Allah pilihan yang mendapat pujian dari Allah adalah mereka yang berjalan di atas muka bumi ini dengan penuh kerendahan hati. Yaitu jika ada orang yang berbuat jahil, berbuat jahat, atau berbicara kepadanya dengan perkataan yang tidak baik, menghina, memaki, mencemooh, dan menjelek-jelekan maka hamba ini akan bersikap berkata yang selamat (Qolu Salaman). Ia tidak membalas hinaan, makian, cemooh, dan cacian dengan balasan serupa (hinaan, makian, cemooh, dan cacian). Tidak membalas 1 cacian dengan berbagai macam cacian lain, tidak membalas cacian dengan puluhan atau ribuan cacian lain. Namun, ia akan membalasnya dengan perkataannya yang baik kepada orang yang merendahkan dirinya.

Inilah hamba Allah yang mendapat predikat pujian di sisi Allah bilamana berhubungan termasuk dengan orang yang jahil, berbuat jahat, dan merendahkan dirinya baik melalui cacian dan makian adalah tidak mengambil sikap yang sama dengan orang tersebut.

Kita memohon kepada Allah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan akhlak Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam di dalam diri kita dan keluarga kita. Dan mudah-mudahan Allah karuniakan kita akhlak yang mulia, akhlak yang baik, akhlak nabawiyah, serta menjadikan kita sebagai hamba yang tawadhu, bukan sebagai hamba yang takabur yang suka merendahkan saudaranya sendiri.

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar al-Hamid, Pengasuh Majelis Ta’lim Darul Murtadza Malaysia).

Tulisan berjudul Sikap Tawadhu terakhir diperbaharui pada Saturday 6 June 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment