Bedah Buku Islam: Mabadi ‘Asyrah Islam Nusantara karya Ustadz Faris Khoirul Anam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

BUKU ISLAM: MABADI ‘ASYRAH ISLAM NUSANTARA
Memahami Sepuluh Prinsip Tema Peradaban Indonesia dan Dunia
Penulis: Ustadz Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I. dari Tim Tutor Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur/ Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Islam Nusantara, sejak digulirkan sebagai istilah kunci tema Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang, Jawa Timur, awal Agustus 2015, menjadi topik hangat yang diperbincangkan, terutama oleh masyarakat muslim Indonesia.

Tak jarang, perbincangan itu berujung pada pro kontra. Satu pihak menerima istilah Islam Nusantara sebagai suatu kajian akademik, budaya, dan peradaban luhur Indonesia. Sementara pihak lain menolak karena Islam Nusantara disinyalir sebagai “agama baru”, gerbong liberalisme, gerakan anti-Arab, menusantarakan Islam, atau bahkan proyek yang berupaya mereduksi ajaran Islam.

Melalui tema muktamar “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia” itu, sejatinya NU berkeinginan mengarusutamakan suatu gagasan. Islam Nusantara sekaligus akan dipersembahkan untuk peradaban dan keadaban seluruh umat manusia.

Jauh sebelum muktamar, yakni sejak 2012, sebenarnya juga telah dibuka Program Pascasarjana Kajian Islam Nusantara. Konon, program ini dirilis berkat pergumulan akademik intelektual NU, terutama para akademisi STAINU dan UNU Jakarta.

Diakui, kendatipun lahir dari rahim NU, belum semua warga nahdliyin mengetahui dan memahami buah pikiran tersebut. Maka, memotret dengan tepat gagasan ini menjadi suatu keharusan bagi warga NU, dan selanjutnya digelorakan dengan baik kepada masyarakat, dengan niat dan tujuan baik pula.

Dalam buku ini, penulis berikhtiar membingkai terma Islam Nusantara dalam Mabadi ‘Asyrah, atau sepuluh prinsip dasar bidang keilmuan. Harapannya, istilah Islam Nusantara tidak menjadi “bola liar” yang menggelinding ke sana ke mari tanpa arah, atau dimanfaatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda dengan komunitas yang memunculkan gagasan tersebut.

Sepuluh paradigma keilmuan – sebagian menyebutnya delapan – itu biasanya “ditalqinkan” kepada para santri di awal mengkaji suatu kitab, terutama kitab klasik. Di era modern, nazham ilmi ini dibungkus dengan bahasa filsafat ilmu yang terbentuk atas tiga premis utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Setelah mengawali studi dengan mabadi atau prinsip dasar ini, pola pikir pelajar akan terbentuk dan selanjutnya menjadi karakter. Mereka dapat terhindar dari penyakit ifrath (sikap berlebih-lebihan) dan tafrith (sikap meremehkan) dalam segala hal. Bagaimanapun, wasath (moderat) dan i’tidal (selalu berpegang pada kebenaran) adalah ciri khas dan karakteristik yang harus selalu dijaga.

Akhirul kalam, buku kecil ini tentu tidak dapat mengkover segala hal yang meliputi istilah Islam Nusantara. Namun, kontennya semoga dapat menjadi sketsa kasar dan term of reference (TOR) bagi gagasan ini. Penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru dan kawan yang telah memberi arahan. Masukan dan kritik konstruktif selalu kami harapkan untuk perbaikan dan pengembangan kajian ini.

Wallahu al-Musta’an.
Penulis.

Bedah Buku Mabadi 'Asyrah Islam Nusantara karya Ustadz Faris Khoirul Anam

HADIRILAH DAN IKUTILAH:

Ikuti Bedah Buku Mabadi ‘Asyrah Islam Nusantara karya Ustadz Khoirul Anam di Arena Muktamar ke-33 NU bertempat di Masjid Induk Ponpes Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jatim, pada Selasa 4 Agustus 2015, pukul 0.00-10.30 WIB.

Tulisan berjudul Bedah Buku Islam: Mabadi ‘Asyrah Islam Nusantara karya Ustadz Faris Khoirul Anam terakhir diperbaharui pada Wednesday 29 July 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Bedah Buku Islam: Mabadi ‘Asyrah Islam Nusantara karya Ustadz Faris Khoirul Anam

  1. alhamdullilah…
    semua calon almukarrrom PADA NYA BELIAU YANG TERMULIA,SAYA SEBAGAI WARGA NU,SANGAT BERHARAP NU AKAN MENJADI LEBIH BERMASLAHAT,MEREKA ADALAH FIGUR FIGUR YANG TERPILIH WALAU SETIAP INSAN PASTI ADA LEBIH DAN KURANG NYA,NAMUN BAGI KITA LEBIH BIJAK MEMAHAMI.NU TETAP AKAN BERSATU MENUJU MASLAHAT UMAT.

    Reply

Post Comment