Inilah Profil Singkat 4 Calon Ketua Umum PBNU Periode 2015-2020

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Mulai hari ini, Sabtu 1 Agustus 2015, Nahdlatul Ulama (NU) akan menggelar Muktamar ke-33 di Jombang Jawa Timur. Muktamar kali ini dapat dikatakan sebagai muktamar yang sangat menarik dan banyak menyedot perhatian masyarakat khususnya Nahdliyyin karena menjadi ajang persaingan yang sengit dalam memperebutkan kepemimpinan NU yang baru.

NU sebagai organisasi Islam ahlussunnah wal jama’ah terbesar di Indonesia diharapkan menjadi panglima terdepan dalam mengawal isu-isu keagamaan dan kebangsaan. Semangat keislaman dan kebangsaan NU mempunyai peran penting dalam mengarahkan dan memberi harapan kehidupan masyarakat Islam di Nusantara. Kepemimpinan NU yang baru pun diharapkan melahirkan seorang pemimpin yang revolusioner yang mampu memecahkan persoalan kaum Nahdliyin sekaligus persoalan keislaman dan kebangsaan di Indonesia.

Tak terhitung jasa yang ditorehkan NU terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Setiap fase perjuangan sejak zaman pra kemerdekaan hingga era reformasi saat ini NU telah banyak mengisi jabatan strategis kepemimpinan di Indonesia. Tak heran Presiden Republik Indonesia ke-1, Ir. Soekarno, pernah menyatakan begitu cinta dan bangga terhadap NU.

Saya sangat cinta sekali kepada NU, saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang di muktamar ini agar orang tidak meragukan kecintaan saya dengan NU…!!,“, ungkap Presiden Soekarno, dalam sambutannya di Muktamar ke-23 Nahdlatul Ulama, pada 28 Desember 1962, di Solo, Jawa Tengah.

Saat ini NU sedang memilih pemimpin yang baru. Siapakah kiranya calon yang akan memimpin NU di masa mendatang? Berikut adalah profil singkat calon Ketua Umum PBNU yang akan berlaga di arena Muktamar Ke-33 di Jombang Jawa Timur:

Profil Calon Ketua Umum PBNU

Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A.

KH Said Aqil Siradj lahir di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, pada 3 Juli 1953. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) periode 2010–2015. Beliau adalah seorang akademisi yang mendapat gelar sarjana hingga doktor di Arab Saudi. Sekembalinya ke Tanah Air, KH Said ‘Aqil Siradj langsung mengajar di sejumlah perguruan tinggi dan pesantren. Beliau juga sempat duduk di bangku MPR RI.

Aqil remaja pernah terlibat aktif dalam organisasi ke-NU-an. Dia sempat menjabat Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974) hingga akhirnya, berbekal pengalaman dan bejubel prestasi mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Riwayat Pendidikan

  1. Pendidikan Formal:
    • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
    • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
    • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994
  2. Non-Formal:
    • Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
    • Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
    • Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

DR. KH As’ad Said Ali

KH As’ad Said Ali lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 19 Desember 1949. Alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Jogjakarta dan Alumni Hubungan Internasional UGM ini masuk ke BAKIN (saat ini BIN/ Badan Intelejen Negara) sejak tahun 1982-1999. Sejak 2001 beliau menjabat sebagai Wakil Kepala BIN selama 9 tahun era Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY. Beliau sempat bertugas lama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordan, Syuriah, Lebanon, Eropa dan Amerika serikat.

Jejak karir As’ad Said Ali Aktif di BANOM NU seperti IPNU, PMII dan GP Ansor. Asad diminta oleh para Rais Aam, serta ulama sepuh NU mendampingi KH Said Agil Siraj sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Selain sibuk menjadi aktivis, As’ad Said Ali juga menelurkan banyak karya tulisan. Buah pikirannya seperti Negara Pancasila 2011, Pergolakan di Jantung Tradisi 2009, Ideologi Pasca Reformasi 2010 di terbitkan oleh LP3ES  Jakarta.

Sebagai cendekiawan NU, As’ad memikili komitmen meneguhkan masa depan NU. Seperti isu penyusupan agen JIL dan Syiah pun, As’ad turut bersuara. Seperti dikutip oleh Tempo, Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama As’ad Said Ali menegaskan organisasi keagamaan NU tidak mempraktekkan paham liberal. As’ad menilai, jika ada orang yang mengaku NU tapi paham yang dianutnya liberal, itu adalah sempalan NU.

Dr. (H.C.) Ir. KH Salahuddin Wahid

KH Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah lahir di Jombang, 11 September 1942. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini adalah seorang aktivis, ulama, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Beliau merupakan putra dari pasangan KH Wahid Hasyim (ayah) dengan Sholehah (ibu), dan adik kandung dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kakeknya adalah seorang ulama besar, Maha Guru para kiai Nusantara, sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Selama karir politiknya Gus Solah pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998. Mantan Ketua Umum PBNU periode 1999-2004 ini juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Bersama kandidat presiden Wiranto, ia mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu presiden 2004. Langkahnya terhenti pada babak pertama, karena menempati urutan ketiga.

KH Muhammad Adnan

KH Muhammad Adnan lahir di Semarang pada 16 Spetember 1960. Beliau adalah mantan Ketua PWNU Jawa Tengah yang kini menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.

KH Muhammad Adnan bisa dibilang merupakan figur yang kurang terdengar bila dibandingkan dengan calon ketua umum yang lain. Tetapi kesederhanaannya dan pengalamannya dalam organisasi NU sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah ini membuatnya didukung oleh sejumlah sesepuh NU seperti KH Dzikron Abdillah dan KH Achmad. Tidak hanya itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun mendukung Adnan untuk menjadi Ketua Umum PBNU mendatang.

Pria kelahiran 1960 ini merupakan seorang akademisi di bidang ilmu politik dari kalangan santri. Latar belakang pendidikannya diawali dengan menjadi santri di Pesantren Darun Nasiin, Malang, Jawa Timur. Gelar master perbandingan politik diperolehnya dari Hiroshima University, Jepang. Saat ini dirinya tercatat sebagai staf pengajar di FISIP Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah dan tengah menempuh program doktoral ilmu politik di universitas tersebut.

Menurut KH Muhammad Adnan, PBNU di masa mendatang harus menjadi pelopor dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Sekarang ini banyak paham keagamaan atau sempalan-sempalan keagamaan yang menggunakan simbol keagamaan tapi sebenarnya gerakan mereka lebih politik yang ingin mengubah negara kita,” tegas Adnan di Semarang, 21 April 2015.

Dia berpendapat, paham ahlus sunnah wal jama’ah menjadi kata kunci dalam mempertahankan keutuhan NKRI.

“Selain itu, pengkaderan perlu terus dilakukan agar anak-anak muda NU itu tidak lepas dari akidah aslinya karena tawaran instan dari sempalan-sempalan NU itu cukup menggiurkan seperti semua orang akan sejahtera jika negara Indonesia berbentuk khilafah,” ujarnya.

(Berbagai sumber)

Tulisan berjudul Inilah Profil Singkat 4 Calon Ketua Umum PBNU Periode 2015-2020 terakhir diperbaharui pada Saturday 1 August 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Inilah Profil Singkat 4 Calon Ketua Umum PBNU Periode 2015-2020

Post Comment