KH Marzuki Mustamar: NKRI Harga Mati, NU Selalu di Hati

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Indonesia Merdeka tidak lepas dari perjuangan para Ulama-ulama’ besar, dari deretan para Pahlawan hampir 90% itu termasuk Pahlawan Ulama’ seperti Sultan Hamidin Putera Syarif Hidayatullah, KH. Hasyim Asy’ari, Sunan Gunung Jati, Sultan Agung, (Pangeran) Diponegoro, Jendral Sudirman, KH. Wahab Hasbullah, Ahmad Nashir dan lain-lain. Beliau-beliau adalah Ulama’ besar yang telah berjuang dalam Kemerdekaan Republik Indonesia ini.

Tak lupa juga Bung Karno pun termasuk bagian dari Ulama’, perlu diketahui bahwa Bung Karno mendapatkan gelar 28 Doctor Kehormatan, dan satu diantaranya yaitu Doctor dibidang Ilmu Tauhid. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Bung Karno bagian dari Ulama’ yang telah berjuang atas Kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, Umat Islam, Para Santri, Pengikut para Ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah, mereka ikut wajib mempertahankan Sajadah Negara kita Republik Indonesia, karena Menjaga NKRI sama wajibnya dengan menjaga ajaran Syariat Islam khususnya Ajaran Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Bagi para ulama’ yang telah berjuang hingga dipanggil Allah SWT dan berguguran di medan perang, harga Kemerdekaan NKRI seharga dengan Nyawa dan Darah mereka. Karena perjuangan beliau-beliau para ulama’ hingga merdekanya negara kita ini, kita dapat berdakwah, manaqib, tahlil, melakukan syariat Islam dengan aman. Oleh karena itu, kita wajib menjaga Kemerdekaan Republik Indonesia. Wajibnya Menjaga NKRI sama dengan Wajibnya melaksanakan Syariat Islam.

Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai aset terbesar di Indonesia. Hal itu dapat kita buktikan bahwa para ulama’-ulama’ atau auliya’ terbanyak berada di Indonesia, masjid terbanyak bukan di Malaysia atau pun di Timur Tengah tetapi berada di Indonesia. Jumlah umat Islam terbesar pun di Indonesia sekitar 200 juta lebih umat Islam, Pondok Pesantren pun yang dimiliki oleh NU saja hampir 20.000 lebih, belum lagi lain-lainnya seperti Madrasah (MI, MTs, MA) yang dimiliki oleh Kemenag, NU, dan Muhamaddiyah sekisaran 30.000 lebih di seluruh Indonesia. Makam para ulama’, Walisongo juga berada di Indonesia, jama’ah haji paling banyak dan paling tertib pun dari Indonesia, dan masih banyak lagi aset Islam yang belum disebutkan. Jadi, aset terbesar itu harus dijaga oleh NKRI, Ingat!!! Bubarnya NKRI, terancamnya aset Islam. Maka dari itu, menjaga NKRI sama dengan wajibnya menjaga ataupun melaksanakan ajaran Syariat Islam.

Sesungguhnya kita semua itu tahu, bahwa kita bersujud di Indonesia, dilahirkan pun di Indonesia, kita mencari nafkah untuk keluarga pun di Indonesia, ngaji pun dari TPQ hingga Pesantren Kitab Kuning juga di Indonesia. Semua yang kita lakukan berada di Indonesia. Indonesia adalah Sajadah kita, Indonesia Diniyah kita, Indonesia Pesantren kita, Indonesia Masjid kita, Indonesia tempat Sujud kita. Jadi kita harus selalu Ingat, bahwa Membela Indonesia sama dengan wajibnya menjaga dan membela Masjid, Pesantren dan Madrasah.

Oleh karena itu, Para Ulama’ khususnya Ahli sunnah wal Jama’ah Nahdlotul Ulama’ dari dulu selalu berkomitmen bahwa NKRI Harga Mati, Membela NKRI hingga meninggal maka ia Mati Syahid. Sedangkan Menentang NKRI itu termasuk kaum-kaum Paratis.

Marilah kita para kaum Ahli Sunnah wal Jama’ah, kaum Pesantren seperti para Ulama’-ulama’ kita terdahulu, Marilah kita berjuang untuk Indonesia Merdeka, Marilah kita berkomitmen Nawaitu untuk berjihad, berani mengorbankan Nyawa, Darah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan begitu Simbolis kita, Komitmen kita, Aqidah kita untuk NKRI ini sama dengan yang dimiliki oleh beliau-beliau para Ulama’ Pejuang Bangsa Indonesia seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan dan juga para ulama’ lainnya. Maka jika kita mempunyai komitmen yang sama, Insya Allah nanti kita semua akan dikumpulkan bersama-sama para Ulama’-ulama’ atau para Auliya’ yang telah berjuang atas Kemerdekaan Republik Indonesia ini. Aamiin allahumma Aamiin.
NKRI Harga Mati dan NU Selalu di Hati.

VIDEO PENGIBARAN BENDERA NU PADA UPACARA 17 AGUSTUS 2015

 

Keterangan Video: Selain pengibaran bendera Merah Putih, upacara HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2015 di Ponpes Sabilurrosyad Malang Jawa Timur, juga diwarnai pengibaran bendera Nahdlatul Ulama (NU) yang diiringi dengan sholawat, dan dipimpin langsung oleh pengasuh ponpes, Sang Singa Aswaja Indonesia, Almukarrom KH Marzuki Mustamar. Tampak dalam video ini, sang kiai selaku pemimpin upacara memakai seragam kebesarannya, berupa peci hitam, baju putih lengan panjang, bersarung hijau, dan bersandal, yang merupakan ciri khas seragam salafiyyah NU. Begitu juga dengan PaskibraNU (pasukan santri pengibar bendera NU) yang memakai seragam salafiyyah khas NU.

FOTO DOKUMENTASI UPACARA BENDERA 17 AGUSTUS 2015, PONPES SABILURROSYAD MALANG

KH Marzuki Mustamar

Upacara Bendera 17 Agustus

Kibaran Bendera Merah Putih

Pengibaran Bendera NU

Hormat Bendera

Upacara Bendera Santri

Upacara Bendera Santri

Upacara Bendera Ponpes Indonesia

(Kesimpulan mau’idhoh hasanah Abuya KH Marzuki Mustamar ketika Beliau menjadi Pembina Upacara Kemerdekaan 17 Agustus 2015 di PP. Sabilurrosyad Gasek Malang/ FP KH. Marzuki Mustamar).

Tulisan berjudul KH Marzuki Mustamar: NKRI Harga Mati, NU Selalu di Hati terakhir diperbaharui pada Saturday 22 August 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “KH Marzuki Mustamar: NKRI Harga Mati, NU Selalu di Hati

Post Comment