Fenomena Penyebaran Ajaran Islam Parsial dan Dangkal

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Di sebuah masjid kampus, saat saya shalat Dzuhur, saya secara tidak sengaja mendengar ada seorang anak muda dengan penampilan khas kelompok pengklaim pemeluk Islam kaffah, yang dipanggil atau memanggil dirinya sebagai ‘Ustadz’ sedang berceramah. Bergamis, berjenggot dan berstempel hitam di dahinya, dengan penuh semangat dan kesan ‘ghiroh’ yang besar ia berkali-kali menyatakan bahwa Islam di Indonesia telah mengalami takhoyyulisasi dengan thoriqoh dan ziarah, degradasi dengan bid’ah, serta kufur dan syirik merajalela dengan tahlil, tawassul dan selametan-selametan. Lalu ia beberapa kali membacakan nomer ayat Al-Qur’an, nomer surat dan juz dan terjemahannya tanpa membacakan ayatnya. Ia juga membaca beberapa terjemahan dan nomer hadits dari Shahih Bukhori dan Muslim, tanpa membaca matan haditsnya. Ia tak segan tuduh dan hujat sana sini dan mengklaim diri paling Islam kaffah.

Saat situasi menuntutnya harus membaca Al-Qur’an, saya mulai tertarik untuk dengan seksama mendengarkannya. ‘Ustadz’ muda ini bacaan Al-Qur’annya luar biasa. Ternyata kualitasnya tidak lebih baik dari tetanggaku, murid TPQ kelas 3 SD. Belum lagi kalau diteliti apakah ayat yang dibaca sesuai dengan nomor ayatnya. Pemaknaan dan penjelasannya juga tidak jelas dengan tafsir dari siapa dan ilmu dari mana. Pemahaman ‘Ustadz’ muda itu tampak sangat parsial dan dangkal. Gatal juga saya untuk tidak melakukan upaya ‘meluruskannya’. Tapi karena dia sudah mengklaim diri sebagai pemeluk Islam paling lurus, maka saya menjadi tidak yakin terhadap efektifitas pelurusan saya. Saya memilih meninggalkan forum yang lama-lama semakin terjadi ‘ngawurisasi’.

Menjalankan dan menyiarkan ajaran Islam ternyata tak cukup sekedar dengan semangat dan ‘ghiroh’ saja. Butuh pengkajian dan pemahaman yang luas, mendalam, utuh (tidak parsial/ sepotong-sepotong) dan kecerdasan terhadap ajaran Islam. Karena ajaran Islam harus dipelajari, dipahami, diyakini sebelum diamalkan dan disebarkan. Ajaran tidak sekedar untuk diperdebatkan, apalagi untuk alat menghujat dan mengkafirkan.

Fenomena penyebaran ajaran Islam parsial, dangkal dan ‘sangat kanan’ (garis keras) oleh para pendakwah yang masih harus banyak belajar lagi ini sungguh sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Sebab, tanpa upaya yang sungguh-sungguh untuk mengarahkannya, maka potensi konflik sosial dengan motif agama dan aliran agama sangat besar. Lihatlah mayoritas negeri-negeri di Timur Tengah yang dilanda perang dan saling bunuh antar umat Islam sendiri.

Ayo belajar Islam lagi. Kalau perlu mondok yang sungguh-sungguh agar lebih proporsional nemahami dan mengamalkan Islam.

Rasulullah Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mengajarkan kebaikan, kelembutan, keramahan dan ajakan-ajakan persuasif. Kejayaan atau kehancuran, kebersamaan atau perpecahan, keindahan atau anomali yang kita perjuangkan….?

Oleh: Gus Ahmad Labib Asrori, Pengasuh PP Roudhotut Thullab Magelang.

Tulisan berjudul Fenomena Penyebaran Ajaran Islam Parsial dan Dangkal terakhir diperbaharui pada Wednesday 2 September 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment