Shalat Hari Raya di Masjid atau di Lapangan, Mana yang Lebih Utama?

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Para ulama sepakat bahwa lokasi shalat hari raya bagi orang Makkah, yang lebih afdhal adalah Masjidil Haram. Namun dalam hal kaum muslimin yang berada diluar Makah, mereka berbeda pendapat, ulama Syafi’iyah mengatakan yang lebih afdhal, shalat hari raya dilakukan di masjid sebagaimana halnya kamu muslimin Makah. Sedangkan ulama selain Syafi’iyah berpendapat lebih utama dilakukan di lapangan di luar masjid kecuali apabila hari itu datang hujan. Maka ketika itu, sunnat dilakukan di dalam masjid.1 Ketentuan ini menurut mereka karena didasarkan kepada hadits Nabi SAW riwayat Abu Hurairah, berbunyi:

وَعَنْ أَبِى هٌرِيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ انهمَ أصَابَهم مَطَرٌ فِى يَومِ عِيْدٍ فَصَلَّى بِهم النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلاة العيد فِى مسْجِدٍ

Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi SAW shalat dengan mereka di dalam Masjid. (Hadits Riwayat Abu Daud)2.

Menurut keterangan al-Nawawi, hadits ini nilainya baik dan juga telah diriwayat oleh al-Hakim dengan mengatakan kualiatas haditsnya shahih.3

Dalil yang digunakan golongan yang berpendapat lebih utama dilakukan di lapangan di luar masjid adalah mengikuti sunnah Nabi SAW yang dinyatakan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudry, berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفِطْرٍ والأضحى إِلَى الْمُصَلَّى

Nabi SAW selalu keluar ke tempat shalat (lapangan) pada hari hari raya Fitri dan Adha. (Muttafaqun ‘alaihi)4

Dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, hadits ini berbunyi:

خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم في أضحى أو فطر إلى المصلى فصلى بهم

Rasulullah SAW keluar ke tempat shalat (lapangan) pada hari raya Adha atau Fitri dengan melakukan shalat bersama mereka. (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah)5.

Adapun golongan Syafi’iyah yang berpendapat bahwa shalat hari raya lebih afdhal dilakukan dalam masjid, berargumentasi karena masjid merupakan tempat ibadah yang dimuliakan Allah. Karena itu, ibadah lebih utama dilakukan di masjid dibandingkan tempat lainnya. Diantara firman Allah yang menjelaskan mengenai keutamaan masjid antara lain firman Allah Quran Surat at-Taubah ayat 18, berbunyi:

إِنَّما يَعْمُرُ مَساجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسى أُولئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunai zakat dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka merekalah orang-orang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang terpetunjuk (Quran Surat at-Taubah: 18)

Keutamaan melakukan ibadat dalam masjid ini tidak terkecuali juga berlaku bagi shalat hari raya, karena memang tidak ada dalil yang mengecualikannya. Berdasarkan ini, maka shalat hari raya tetap lebih utama dilakukan di dalam masjid, baik bagi orang Makah atau luar Makah.

Adapun mengenai hadits di atas yang menjelaskan bahwa Rasullullah SAW sering melakukan shalat hari raya dilapangan, hal itu tidak dapat dijadikan sebagai dalil shalat hari raya lebih utama dilakukan di lapangan. Karena Rasulullah SAW`melakukan hal tersebut disebabkan keadaan pada waktu itu dimana jumlah jama’ah shalat hari raya yang umumnya lebih banyak dari jama’ah shalat lainnya, sehingga masjid yang sempit tersebut (masjid zaman Rasulullah tidak sebesar masjid umumnya zaman sekarang) tidak muat jumlah jama’ah shalat hari raya. Dengan pemahaman ini, dapat dipahami kenapa Rasulullah SAW lebih sering shalat hari raya di lapangan. Hal ini, tentu tidak berlaku lagi pada zaman sekarang di mana masjid-masjidnya berdiri besar-besar dan megah, kecuali kalau memang keadaan jumlah jama’ah berlimpah dan tidak berimbang dengan besarnya masjid. Dalam kondisi seperti ini, maka shalat di lapangan tentu lebih diutamakan dibandingkan di masjid. Penjelasan seperti ini telah dikemukan oleh al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhazab6.

Penjelasan yang dapat mengantarkan kita kepada pemahaman di atas juga dapat dipahami dari hadits riwayat Abu Hurairah di atas, yang berbunyi:

وَعَنْ أَبِى هٌرِيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ انهمَ أصَابَهم مَطَرٌ فِى يَومِ عِيْدٍ فَصَلَّى بِهم النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صلاة العيد فِى مسْجِدٍ.

Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya mereka ditimpa hujan pada hari raya, maka Nabi SAW shalat dengan mereka di dalam Masjid. (Hadits Riwayat Abu Daud)7.

Shalat hari raya itu sejak jaman dahulu hingga sekarang adalah shalat yang jumlah makmumnya pasti memegang rekor terbanyak selama setahun. Saat itu, orang yang tidak biasa shalatpun akan hadir ikut lebaran, sehingga jumlah jama’ah pasti akan meluber. Oleh karena itu, pada umumnya masjid tidak akan muat. Sebab pada jaman dulu, masjid itu pada umumnya tidak besar sebagaimana masjid-masjid yang ada pada zaman sekarang dan masjid itu hanyalah sebuah lahan yang dikelilingi tembok dan tanpa atap sebagaimana Masjidil Haram. Oleh karena itu, kalau hujan maka akan kehujanan. Lalu apa kaitannya dengan hadits di atas, kenapa apabila hujan maka shalat hari raya di dalam masjid ? Kaitannya adalah bila hujan maka jama’ah akan sedikit, dengan demikian mereka akan muat di dalam masjid. Jadi pindah ke dalam masjid itu bukan dalam rangka berteduh dari hujan, sebab sama saja shalat di luar maupun di dalam masjid, kalau hujan akan tetap sama-sama kehujanan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa shalat hari raya pada masa Nabi SAW dilakukan di lapangan adalah karena jumlah jama’ahnya tidak muat dilakukan shalat di dalam masjid.

Ditinjau dari sisi bahwa dalam masjid sunnat dilakukan shalat tahiyat masjid, i’tikaf dan ibadah lainnya yang bersangkutan dengan masjid , juga menjadi pertimbangan kenapa shalat hari raya lebih utama dilakukan di masjid dibandingkan dilakukannya di lapangan.

Oleh: Tgk. Alizar Utsman, S. Ag., M. Hum, Tapaktuan, Aceh, Indonesia.

Referensi:

  1. Dr Wahbah Zuhaili, Fiqh Islami wa Adillatuhu, Darul Fikri, Beirut, Juz. II, Hal. 369
  2. Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Hal. 110
  3. Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. V
  4. Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Hal. 110
  5. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, Maktabah Syamilah, II, Hal. 342, NO. Hadits : 1430
  6. Al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. V
  7. Ibnu Hajar al-Asqalany, Bulughul Maram, Mathba’ah al-Salafiyah, Mesir, Hal. 110
Tulisan berjudul Shalat Hari Raya di Masjid atau di Lapangan, Mana yang Lebih Utama? terakhir diperbaharui pada Wednesday 23 September 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment