Jadilah Orang yang Pemaaf

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al Hamid

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي الأمي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿ آل عمران:١٣٤

Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan“. (Quran Surat Ali Imran:134)

Di dalam Al-Qur’an, tertulis sifat menahan marah kemudian baru memaafkan, “Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang”. Yakni memaafkan diletakan setelah menahan marah dikarenakan orang yang tak mampu menahan marah tak mungkin dapat memaafkan. Tapi bagi orang yang mampu menahan marah maka ada peluang untuk memaafkan. Seseorang itu tidak cukup hanya sekedar menahan marah saja sebab orang yang menahan marah belum tentu memaafkan. Apabila seseorang mampu menahan marahnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajak kepada orang itu untuk naik ke tingkatan yang lebih tinggi, jangan hanya berhenti menahan marah saja. Apa tingkatan yang lebih tinggi dari menahan marah? 

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

Memaafkan kepada orang lain. Ketika sudah mampu memaafkan, Allah menawarkan kembali untuk naik lagi ke tingkatan yang lebih tinggi. Apa itu?

وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Anda menunjukan ihsan (kebaikan) kepada orang yang telah membuat kamu marah yang telah kamu beri maaf kepadanya. Tunjukan ihsan yakni kita memulai kebaikan kepada orang yang membuat kita marah tadi itu yang kita ingin berikan maaf. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka kepada orang-orang yang berbuat ihsan atau kebaikan.

 هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ ﴿ الرحمن:٦٠

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)“. (Quran Surat Ar-Rahman: 60)

Balasan orang berbuat ihsan adalah ihsan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan tanya ihsan dari Allah itu seberapa besar dibandingkan ihsan kita kepada orang lain. Dan oleh karena itu, ketika turun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف:١٩٩

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh. (Qur’an Surat Al-A’raf:199)

Allah suruh kita ambil maaf. Lihatlah خُذِ الْعَفْوَ (Khudzil ‘Afwa) yang artinya ambilah sifat maaf. Kita disuruh ambil. Apa maknanya suruh ambil? Yakni adanya usaha dari kita. Kalau kita hendak mengambil barang misalnya maka ada sesuatu alat yang kita gunakan untuk mengambil. Kalau barang itu kecil mungkin cukup dengan tangan atau tongkat saja. Kalau barangnya besar mungkin memerlukan alat semacam crane atau derek untuk mengangkat barang tersebut. Tergantung kepada apa yang kita ingin ambil, yang jelas ada usaha untuk mengambil barang atau benda tersebut. Maaf adalah suatu benda yang mesti kita berusaha untuk mengambilnya. Jangan menunggu maaf itu datang tetapi kita harus berusaha untuk mengambilnya. Kita paksa diri kita, walaupun sebenarnya kita geram, walaupun kita marah, walaupun kita sakit hati, ambil maaf itu.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam ketika turun ayat di atas (Quran Surat Al-A’raf: 199) tentang Khudzil ‘Afwa (ambil sifat maaf) maka bertanya kepada Malaikat Jibril, “Ya Jibril, apa maksud ambil maaf itu?”.

Jibril menjawab, “Biarkan Saya bertanya kepada yang Maha Mengetahui (Allah)”.

Kemudian pergilah malaikat Jibril kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertanya kepadaNya lalu kembali kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Lihtalah, malaikat Jibril ketika hendak menafsirkan ayat Al-Qur’an, tidak asal main fatwa begitu saja, tetapi ia merujuk terlebih dahulu. Inilah perlunya seseorang itu untuk merujuk kepada orang ‘alim terhadap perkara-perkara yang ia tidak ketahui. Dalam Islam kalau tak faham hukum hakam maka bertanyalah kepada orang faham Agama Islam (Alim Ulama).

Lalu, apa kata Jibril kepada Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam terkait tafsiran Khudzil ‘Afwa, ambil sifat maaf?.

Jibril menjelaskan, “Maafkan orang yang berbuat dzalim kepada engkau, memberi kepada orang yang tak mau memberi kepada engkau, dan sambung tali silaturahim kepada orang yang memutuskan silaturahim kepada engkau”.

Inilah makna mengambil sifat maaf. Maka tak ada orang yang lebih banyak mendapat maaf dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihi daripada orang-orang yang suka memberi maaf kepada orang lain.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita, kepada keluarga kita, kepada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, Allah anugerahkan sifat santun, sifat sabar, sifat yang mampu menahan amarah dan sifat mau memaafkan orang lain. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memudahkan semuanya untuk senantiasa berbuat ihsan dan dijauhkan dari berbuat keburukan. Amin Allohumma Amin.

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid, Pengasuh Majelis Ta’lim Darul Murtadza Malaysia).

Tulisan berjudul Jadilah Orang yang Pemaaf terakhir diperbaharui pada Sunday 21 February 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment