Mengenal Sekilas Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Pengasuh Majelis Taklim Al Hidayah Solo

SHARE & LIKE:
  • 1.4K
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
    1.4K
    Shares

Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi merupakan seoarang dai muda alumni Darul Musthafa Yaman. Dai yang satu ini dalam berdakwah banyak menyampaikan kisah-kisah teladan dari kaum salafus shalih. Menurutnya metode ceramah demikian lebih banyak menyentuh dan berkesan bagi jamaah. Tak heran banyak jemaah yang lebih cepat menyerap kalam dan nasehat yang disampaikannya.

Nama lengkap beliau adalah Sayyidil Habib Alwi bin Ali bin Alwi bin Ali Al-Habsyi, putra tertua dari Habib Ali Al-Habsyi. Pria yang sedari kecil mengenyam pendiidkan dasar di kota Surakarta ini dilahirkan pada 31 Maret 1970. Ketika masih sekolah dasar, teman-teman dan guru-gurunya sampai bingung menyebut nama Habib Alwi dan Ali karena kadang menyebutnya juga sampai terbalik-balik. Akhirnya salah seorang gurunya memanggilnya Habib “Alwi Kuadrat”.

Ayah dari Habib Alwi, Habib Ali Al-Habsyi tentu punya alasan tersendiri untuk menamai sang putra sulungnya itu. Harapan Habib Alwi paling tidak maqam dan kecakapan ilmu pengetahuannya mewarisi seperti kakek buyutnya yakni Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi. Untuk mencapai maqam dan kedudukan mulia seperti datuk-datuknya itu, Habib Alwi semenjak usia kanak-kanak telah ditanamkan pendidikan agama secara intensif oleh kedua orangtuanya dan juga beberapa Habaib dan alim ulama yang ada di kota Bengawan itu.

Sejak usia muda Habib Alwi telah belajar kepada Habib Abubakar Assegaff yang tidak lain adalah putra tertua dari Habib Muhammad bin Abubakar Assegaf Gresik. Kebetulan saat itu Habib Abubakar tinggal bersama sang ibunda berdekatan dengan kediaman Habib Alwi yang terletak di Jl Kaliwidas.

Beranjak remaja Habib Alwi menyerap berbagai ilmu agama, terutama tentang Sirah (riwayat para salafus shalihin). Habib Alwi kemudian berguru kepada Habib Anis Al-Habsyi yang tidak lain adalah sang paman yang banyak berdakwah di Solo. Setelah sang gurunya wafat, ia kemudian berguru kepada Habib Ahmad bin Ali Alattas (Pekalongan), Habib Husein bin Abubakar Assegaf (Bangil), Habib Anis Al-Habsyi, Habib Abubakar Al-Habsyi (Solo), Habib Ali bin Idrus Al-Habsyi, Syeikh Ahmad Salmin Daoman, dan lain-lain.

Selepas menempuh pendidikan tingkat Aliyah di Madrasah Aliyah Al-Islam I Honggowongso Solo, Habib Alwi sebenarnya ingin melanjutkan pendidikannya ke Hadhramaut, Yaman. Akan tetapi nasib belum menakdirkannya untuk berangkat ke sana.

Pada 1993, Habib Umar bin Hafidz Yaman datang ke Solo guna menjemput para santri dari Indonesia untuk belajar di Darul Musthafa, Hadhramaut, Yaman. Ketika Habib Alwi pertama kali bertemu dengan Habib Umar bin Hafidz, ada perasaan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Kau harus jadi murid saya di Hadhramaut,” kata Habib Umar bin Hafidz kala itu.

Sayangnya Habib Alwi belum ditakdirkan untuk pergi ke Hadhramaut.

“Saya belum ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berangkat ke sana. Padahal Saya mendambakan betul. Namun, ketidakberangkatan itu justru membuat semangat berkobar-kobar saat itu untuk belajar lebih giat lagi,” kata Habib Alwi.

Habib Alwi kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta pada jurusan Sastra Arab, Fakultas Adab dan lulus 1997. Selama menempuh kuliah di IAIN, Habib Alwi bergabung dalam organisasi Al-Amin yang mayoritas diikuti oleh mahasiswa dari kalangan habaib yang menempuh pendidikan di kota pelajar itu. Saat itu Jamaah Al-Amin diketuai oleh Habib Syekh Bagir bin Smith. Setelah menggondol gelar sarjana 1997, ia masih sempat bertabarukan dengan beberapa habaib yang ada di Pulau Jawa.

Pada 1998, Habib Alwi dan sang Ayah bersama misannya Habib Ali bin Idrus Al-Habsyi menunaikan umrah ke Mekkah. Selepas umrah, mereka menyempatkan diri untuk berkunjung ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut, Yaman, yang akhirnya membawanya diterima sebagai santri di Pondok Pesantren pimpinan Habib Umar bin Hafidz.

Di Hadramaut, Habib Alwi bertemu sekaligus belajar dengan para alim ulama seperti Habib Mashur, Syekh Ali Al-Khatib, Syekh Muhammad Basaudan, Syekh Abdurrahman Bafadhal, Habib Hasan Asy-Syatiry, Habib Salim Asy-Syatiry dan lain-lain.

”Saya bertemu dengan mereka, Saya seakan-akan bukan di dunia. Namun, di dalam surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kok ada orang seperti mereka, yang begitu alim dan tawadhu,” ujar Habib Alwi.

Pendidikan di pesantren Darul Musthafa ditempuh Habib Alwi dalam 2,5 tahun, sebab sebagian kitab-kitab yang diajarkan di sana sudah ia pelajari selama di tanah air. Kebetulan kitab semacam Alfiah (Nahwu) dan Minhaj (Fikih) sudah ia pelajari di Indonesia. Saat itu, kitab-kitab yang disenanginya antara lain Jurumiyah, Mumammimah, Risalatul Jami’ah, Zubad, dan Al Yaqut an-Nafis (fikih). Ia juga menggemari membaca kitab-kitab kalam dan nasehat dari salafus shalih serta tidak ketinggalan sirah Nabawiyah karangan Ibnu Hisyam.

Meski Habib Alwi menempuh pendidikan di Hadramaut dalam waktu yang relatif singkat, ia mengaku mempunyai pengalaman yang berkesan saat Habib Umar mengutusnya untuk berdakwah ke Dau’an, sebuah kota yang letaknya dekat dengan kuburan Hadun, anak Nabi Hud ‘Alaihis Salam pada November 1999. Selama 50 hari Habib Alwi hanya ditemani Habib Abdullah Sathuf, santri Habib Umar bin Hafidz. Padahal medan dakwah yang mereka hadapi adalah daerah yang tidak mengenal agama sama sekali dan penduduknya berkomunikasi dengan logat yang berbeda dengan bahasa Arab pada umumya. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah daerahnya sangat panas, kering dan tidak ada air. Sekalipun ada sumber air, mereka harus menempuh jarak sampai 5 kilometer berjalan kaki. Namun, tantangan itu tidak menyurutkannya untuk berdakwah sampai akhirnya masa dakwahnya itu digantikan oleh Habib Husein bin Nadjib Al-Haddad (Surabaya).

Habib Alwi, dai yang lebih suka berkisah selama berdakwah ini ternyata mengagumi sosok Habib Munzir Al-Musawa, Pengasuh Majelis Rasulullah SAW Jakarta.

“Beliau (Habib Munzir) dalam menyampaikan sesuatu itu tidak bertele-tele, tapi menyentuh kepada jamaah. Dari cara berpakaian dan bicara saja sudah mengundang orang untuk berbuat baik,” kata Habib Alwi.

Sepulang dari Hadramaut, Habib Alwi kemudian membuka Majelis Taklim Al-Hidayah Surakarta. Ada dua progam yang telah dibuka, yakni program mukim (menginap) dan khorijin (reguler). Adapun pelajaran kitab yang diajarkan diantaranya Risatul Jami’ah, Zhahiratul Musyarofah, Safinatun Najah, dan Mukhtasar Shahir. Setiap santri pemula diwajibkan menghafal kitab Jurumiyah (Nahwu) sementara untuk mematangkannya disarankan menghafal kitab Imriti dan Alfiyah.

Habib Alwi juga mengelola sekitar 5 majelis taklim lain yang rutin diadakan di kota Solo, seperti di Masjid Jami’ Assegaf, Majelis An-Nisa di Darud Da’wah tentang fikih wanita, Majelis Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf tiap Rabu malam ba’da Isya, Majelis Baitu Syukur tiap dua minggu sekali dengan mauidhah hasanah tentang tasawuf dan lain-lain.

Selain berdakwah lewat berbagai majelis taklim, Habib Alwi ternyata pernah menulis Kitab As-Sabilul Wadih Finuq Tathin Min Tartib Al-Kutub Al-Fatih karangan Habib Syekh Abubakar bin Muhammad Assegaf dan sekarang telah dicetak ulang. Yang kedua ia juga menulis kumpulan dzikir dan wirid-wirid ba’da shalat. Ada keinginan besarnya yang sampai saat ini belum dituntaskan yakni menulis kitab Ihya Ulumiddin dengan tangannya sendiri dan saat ini baru sampai pada jilid pertama.

Untuk menempanya menjadi pendakwah yang mumpuni, Habib Alwi banyak mendengarkan kaset-kaset dari ulama dan nasehat-nasehat Habib Abdul Qadir bin Abdullah Assegaf, Jeddah. Selain itu ia banyak membaca kitab fikih dan nahwu secara ototidak. Ia juga tak segan-segan bertanya kepada orang-orang yang lebih alim. Sementara kitab lain yang sering dibacanya adalah kitab Tasawuf seperti Ihya Ulimiddin, Bidayatul Hidayah dan kalamul Habaib.

”Kalam (nasehat) Habib Ali Al-Habsyi yang berjudul Alkunuzus Sa’adah al Abadiyah fi Anfasil Habsyiah biasanya Saya baca saat menjelang tidur malam dan tujuannya lebih untuk menasehati diri pribadi, karena sifatnya duduk santai. Nasehat yang paling berkesan dari Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi adalah tentang permasalahan qalbu (hati) dan husnuzhan (prasangka baik),” tutur Habib Alwi.

“Ini juga mendidik pribadi karena banyak menitikberatkan pada i’tibba (ikut ajaran) Nabi pada khususnya, kedua tentang husnuzhan (prasangka baik) dan birrul walidain (berbakti pada orang tua),” tutup Habib Alwi.

Tulisan berjudul Mengenal Sekilas Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Pengasuh Majelis Taklim Al Hidayah Solo terakhir diperbaharui pada Sunday 11 October 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “Mengenal Sekilas Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Pengasuh Majelis Taklim Al Hidayah Solo

Post Comment