Mengenal Wali Allah (Waliyulloh) dan Larangan Memusuhinya

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَآلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِيْنَ. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادٰى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ،  (رواه البخاري

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, sesungguhnaya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادٰى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ … (رواه البخاري

“Barangsiaapa yang memusuhi waliKu (kekasihKu) maka Aku nyatakan (umumkan) perang kepadanya…” (Hadits Riwayat Bukhari).

Hadits di atas menjelaskan siapapun orang yang memusuhi waliKu, orang yang memusuhi mukmin, orang yang memusuhi orang-orang yang dekat kepada Allah Ta’ala, orang yang suka mencaci, memusuhi, dan mengumpat wali Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah nyatakan perang kepada orang tersebut meskipun sang Wali Allah itu ridho, rela dan lapang dada dimusuhi oleh orang yang memusuhinya.

Pertanyaannya, siapakah Wali Allah itu?

Al-Waliyy secara lughot maknanya adalah dekat. Secara istilah, Al-Waliyy atau Waliyulloh atau Wali Allah adalah orang yang dekat kepada Allah, kedekatannya ini dikarenakan ia menjalankan segala perintahNya, menjauhi semua laranganNya bahkan larangan sekecil apapun ia jauhi tunggang langgang tidak mendekatinya, kemudian memperbanyak amal-amal ibadah sunnah dan bersamaan dengan itu ia tidak pernah bosan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta tidak pernah berhenti dan tidak pernah kering lisannya yang selalu basah untuk menyebut asma Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia tidak pernah melihat hal ihwalnya orang lain, relung hatinya tidak pernah menyimpan sesuatu kecuali hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang ia lihat hanyalah petunjuk kemampuannya Allah seperti halnya bergerak, sakit dan sehat itu semua pemberian karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pernah mengeluh dan selalu bersama Allah misalkan ada pemasalahan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang naik tidak menjadikannya merasa susah atau BBM malah turun baginya biasa-biasa saja atau kurs Dollar (USD) naik maka itu tak menjadi masalah atau bahkan Rupiah (IDR) sampai anjlok pun tetap ia merasa santai biasa karena baginya tidak pernah terlintas ataupun terbesit dalam pikiran dan hati seorang Wali itu dunia dan dunia, yang ia lihat hanya ayat Al-Qur’an, yang diucapkan pun tidak pernah mengucap kecuali hanya menyebut dan memuji Allah dan RasulNya makanya ia tidak pernah sempat membicarakan, mengumpat, ataupun melakukan ghibah kepada orang lain, dan dirinya tidak pernah bergerak kecuali untuk taat kepada Allah sehingga kakinya hanya digunakan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Inilah Wali Allah atau Waliyulloh yang tidak ditunjuk kecuali orang-orang yang bertaqwa.

Oleh karena itu Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda, sesungguhnaya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, orang yang memusuhi waliKu maka Aku (Allah) nyatakan perang kepadanya walaupun sang Wali itu ridho, rela dan lapang dada dimusuhi. Allah tetap cemburu kekasihNya dimusuhi. Ini adalah maklumat yang sangat tegas sekali dari Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bahwasanya orang yang memusuhi Wali Allah maka Allah umumkan perang kepada orang tersebut. Untuk itu, jangan pernah kita memusuhi seorang mukmin siapapun orangnya karena makna Wali itu juga adalah Al-Mukmin. Seorang Wali bukanlah seorang yang harus memakai imamah, jubah, atau yang memiliki karomah. Ada Wali yang punya karomah tapi ada juga yang tidak punya karomah. Mana yang lebih baik? Menurut Imam Al-Ghazali seorang Wali yang tidak punya karomah itu lebih besar (baik) daripada yang punya karomah. Dan karomah sendiri mulai banyak bermunculan ketika masuk pada zaman Tabi’in sedangkan pada zaman Sahabat itu masih sedikit, tercatat ada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab Radhiyallohu ‘Anhuma yang memiliki karomah. Padahal kita ketahui bahwasanya Sahabat Nabi itu kedudukannya berada di atas para Auliya atau Waliyulloh. Shohibul Maulid Al-Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi pernah menyatakan tidak ada kedudukan dibawahnya Nabi kecuali kedudukan para Sahabat Nabi. Berkata pula Sayyidul Imam Al-Habib Abdurrahman Assegaf bahwa ia tidak akan melebihkan satu orang diatasnya Sahabat Rasulullah kecuali ada satu nash hadits yang mengatakan demikian, seperti seorang Tabi’in yang bernama Uwais Al-Qarni yang pernah disabdakan Rasulullah sebagai sebaik-baik tabi’in. Maka dari itu, jangan pernah dan jangan sampai terbesit di hati kita untuk membenci Sahabat-Sahabat Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam.

Ada satu riwayat dimana Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi pernah ditanya oleh seseorang, “Ya Habib Ali, banyak orang di zaman sekarang ini diberikan bala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mana lisannya selalu mengumpat dan mencaci maki Sayyidina Mu’awiyah Radhiyallohu ‘Anhu (atau Sahabat Rasulllah), bagaimana pendapatmu?”.

Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menjawab, “Orang-orang seperti ini akan diberikan bala lisannya dipotong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya tidak bisa berkata kecuali perkataan yang keluar darinya itu bohong dan tidak pernah berkata jujur. Orang yang sudah pernah mencaci maki para Sahabat Nabi jangan pernah dipercaya kalimatnya, orang itu pasti akan memaki-maki para Sahabat dan juga Auliya Allah Ta’ala serta mukmin-mukmin yang lain. Orang-orang ini adalah orang-orang ahli bid’ah, kalau memang ajaran aqidahnya itu sudah tertanam di hati orang-orang seperti ini maka dalil-dalil seperti apapun yang diberikan kepada mereka maka tidak akan kembali ke jalan Allah. Bid’ah ini adalah suatu penyakit yang sangat besar. Dulu para salaf kita, para habaib kita, para masyayikh kita tidak pernah saya dengar orang-orang ini mengumpat para sahabat kecuali orang-orang yang datang di akhir zaman sekarang ini. Mudah-mudahan Allah menjaga negeri kaum muslimin khususnya Hadhramaut dan saya sangat iri sekali Allah meridhoi semua Sahabat Nabi tanpa kecuali. Semoga Allah tidak menjadikan hak-hak mereka terbebani ada di atas pundak kita”.

Demikianlah, para ulama kita mengajarkan kepada kita agar tidak mudah mengumpat, memusuhi, membenci, dan mencaci maki para Wali Allah atau pun orang mukmin, terlebih kepada para Sahabat Rasulullah Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Kepada orang mukmin saja kita tidak boleh memusuhinya apalagi ditunjukan kepada para Sahabat Nabi yang mulia.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan aqidah kita, langkah kita, pikiran kita dari segala pikiran yang jelek khususnya kepada kaum muslimin, para auliya, dan para sahabat Nabi. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan langkah kita adalah langkah-langkah yang diridhoi, dibimbing, dan dituntun oleh Allah Ta’ala. Dan mudah-mudahan sampai di akhir zaman, sampai hari kiamat nanti kita selalu mendapatkan cinta dan bimbingan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga semoga kita diangkat menjadi Auliya Allah Ta’ala, diberikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, dijadikan keluarga kita sebagai keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah serta dijadikan anak keturunan kita selalu berpegah teguh pada aqidah ahlussunnah wal jamaah, di atas madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, di atas jalan para habaib dan masyayikh kita serta semoga pula mereka para ulama kita dipanjangkan umurnya, diberikan kesehatan, dan ‘afiyah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dapat memimpin kepada jalan Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah dan Salafuna Sholihin. Amin Allohumma Amin.

Oleh: Sayyidil Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Pengasuh Ma’had Darul Ilmi wad Da’wah Al Hidayah Surakarta, yang disarikan dari kajian rutin majelis taklim Ahad pagi, pada 19 Muharram 1437H/ 01 November 2015 M, bertempat di Ma’had Darul Ilmi wad Da’wah Al Hidayah Surakarta.

Referensi:

951 – (فـ) الحديث (الأول: عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: إن الله تعالى قال: من عادى) من المعاداة: ضد الموالاة (لي) حال من قوله (ولياً) قدر من تأخير وكان قبل صفة أو ظرف لغو متعلق بالوصف قدم اهتماماً به، وهو من تولى الله بالطاعة والتقوى فتولاه الله بالحفظ والنصرة، من الولي: وهو القرب والدنوّ، فالوليّ هو القريب من الله تعالى لتقرّبه إليه باتباع أوامره واجتناب نواهيه، والإكثار من نوافل العبادات مع كونه لا يفتر عن ذكره، ولا يرى غيره بقلبه لاستغراقه في نور معرفته، فلا يرى إلا دلائل قدرته ولا يسمع إلا آياته ولا ينطق إلا بالثناء عليه ولا يتحرّك إلا في طاعته، وهذا هو المتقي قال تعالى: {إن أولياؤه إلا المتقون} (الأنفال: 34) (فقد آذنته) بالمد (بالحرب) أي: أعلمته بأني محارب له، أي: أعامله معاملة المحارب من التجلي عليه بمظاهر الجلال والعدل والانتقام. ومن عامله الحق بذلك فإنه لا يفلح، فهو من التهديد في الغاية القصوى، إذ غاية تلك المحاربة الإهلال، فهي من المجاز البليغ، وكأن المعنى فيه ما اشتملت عليه تلك المعاداة من المعاندة تعالى بكراهة محبوبه، والوعيد لمن عادى ولياً من أجل ولايته وقربه من الله تعالى، وذلك كإيذاء من ظهرت أمارات ولايته باتباع الكتاب والسنة، إما بإنكارها عناداً أو حسداً، أو بعدم الجري على ما ينبغي له من التأدب معه، أو بنحو سبه وشتمه من سائر أنواع الإيذاء التي لا مسوغّ لها شرعاً مع علم متعاطيها بذلك.
— شرح العلامة محمد علي بن محمد بن علان رحمه الله، دليل الفالحين لطرق رياض الصالحين باب في المجاهدة —

Tulisan berjudul Mengenal Wali Allah (Waliyulloh) dan Larangan Memusuhinya terakhir diperbaharui pada Sunday 21 February 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment