Untuk Kali Ketiga, Pemkot Solo Gelar Sholawat Akbar Bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kembali menggelar Pengajian Akbar, Dzikir dan Sholawat, dalam rangka memperingati tahun baru Hijriyah 1437 H pada Sabtu malam Ahad (31/10/2015). Diperkirakan 50 ribu jamaah menyesaki jalanan mulai dari kawasan Koridor Jalan Jenderal Sudirman Tugu Pamandengan di depan Balaikota Surakarta hingga Bunderan Gladag untuk mengikuti shalawat akbar yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Majelis Ahbaabul Musthofa Surakarta, Sayyidil Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf.

Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Solo, Siti Anggraini Purwanti, sebagaimana dikutip Solopos, mengatakan perhelatan akbar ini merupakan event rutin tahunan yang digelar Pemkot Solo dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam. Kegiatan yang sudah masuk dalam event kalender Kota Solo tersebut merupakan kali ketiga yang digelar tahun ini. Kegiatan yang pertama diadakan pada Juni 2013, saat deklarasi Solo Kota Sholawat oleh Walikota Solo saat itu, FX Hadi Rudyatmo. Kemudian yang kedua digelar pada November 2014 yang saat itu dihadiri tamu kehormatan seorang ulama ahlussunnah wal jamaah dari Yaman, Sayyidil Habib Umar bin Hafidz. 

Hadir dalam acara ini antara lain para alim ulama, para kiai, dan habaib serta para pejabat pemerintahan seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Pejabat (Pj) Walikota Surakarta Budi Suharto, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surakarta Teguh Prakoso, Muspida, DPRD, SKPD, BUMD, Dandim dan Korem Kota Surakarta, juga tidak ketinggalan para calon walikota dan calon wakil walikota Surakarta seperti F.X. Hadi Rudyatmo dan Anung Indro Susanto, serta puluhan ribu muslimin dan muslimat se-Solo Raya.

Dalam sambutanya, Budi Suharto, mewakili Pemkot Solo mengapresiasi antusiasme masyarakat Solo dan sekitarnya untuk menghadiri acara tersebut. Menurutnya kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan umat Islam.

“Saya memberikan apresiasi bahwa kita semua butuh forum-forum seperti ini dalam rangka mengasah kecerdasan religius kita sehingga saya berharap bahwa setelah pengajian seperti ini ada beberapa peningkatan iman dan taqwa kita,” kata Budi Suharto dalam sambutannya.

Tahun depan, lanjutnya, acara shalawat akbar serupa direncanakan akan diadakan pada 22 Oktober 2016. “Dan sebagai informasi karena ini menjadi agenda yang tepat dan (kita) butuh seperti ini, tahun depan (shalawat akbar) sudah dijadwalkan yaitu 22 Oktober 2016″, ungkap Budi Suharto.

Menanggapi (Pj) Walikota Budi Suharto, Maulana Habib Syech menyatakan rasa terimakasihnya. Siapapun nanti yang jadi walikotanya shalawat akbar pada 22 Oktober 2016 mendatang harus tetap diadakan, dan kebetulan tanggal 22 Oktober bertepatan dengan Hari Santri Nasional.

“Siapa yang jadi walikotanya terserah yang penting tanggal 22 Oktober harus sholawatan. Kebetulan 22 Oktober itu pas Hari Santri. Terimakasih pak Budhi, bukannya Pak Budhi mencocok-cocokan, pas kebetulan itu bertepatan dengan Hari Santri 22 Oktober. Ingat-ingat siapapun walikotanya”, jelas Habib Syech.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengungkapkan bahwa dirinya baru berkeliling ke daerah-daerah seperti Kebumen, Wonosobo, Purworejo, Tawangmangu, Boyolali dan kemudian mampir ke Solo untuk sholawatan. Ganjar pun berharap kegiatan sholawatan ini dapat semakin meningkatkan kerukunan masyarakat, bersatu, dan menjaga silaturahmi. Menurut dia, hal ini sangat diperlukan untuk menyukseskan pembangunan. Dalam sambutannya, Ganjar juga berpesan untuk menjaga lingkungan mengingat dalam waktu dekat akan memasuki musim hujan sehingga diharapkan bisa meminimalkan bencana banjir. Tidak lupa, dihadapan puluhan ribu Syekhermania, sebutan bagi pecinta Habib Syech, Gubernu Jateng ini memuji semangat para Syekhermania dalam bersholawat. Bahkan, ia membuat sebuah plesetan kota Solo menjadi Solo-watan (Sholawatan), ya Solo Solowatan.

“Sebenarnya tadi mau berangkat rasanya ngantuk sekali, tapi setelah melihat semangatnya Syekhermania langsung melek (terjaga)”, puji Ganjar Pranowo kepada Syekhermania Solo Raya.

Setelah sambutan-sambutan, sholawatan pun dimulai dengan diawali pembacaan maulid Burdah yang disenandungkan dengan indah oleh seorang anak kecil yang bernama Sayyid Muhammad Hadi bin Abdul Qadir bin Salim Assegaf. Setelah itu Habib Syech memandu sholawatan bersama ribuan jamaahnya dengan penuh kekhusuan. Suara syahdu Habib Syech seakan-akan menyihir para jamaah yang larut dalam indahnya bersholawat.

Setelah sholawatan, Habib Syech memberikan mau’idzoh hasanah. Bertepatan dengan tahun baru Hijriah, Habib Syech, mengingatkan kembali sedikit peristiwa hijrah yang luar biasa berat dan penuh pengorbanan bagi Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alih wa Shohbihi wa Sallam. Saat itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallohu Wajhah diperintahkan Rasulullah untuk menggantikan dirinya tidur berbaring di tempat tidurnya. Sayyidina Ali pun tahu perintah Rasulullah ini adalah nyawa taruhannya. Karena waktu itu orang-orang kafir Makkah berniat bersama-sama mengepung rumah Rasulullah untuk membunuhnya sebagaimana dikabarkan Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam. Meski begitu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib tetap menerimanya dan siap mati membela Allah dan RasulNya.

Bukan tanpa alasan Rasulullah memilih Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ditunjuknya Sayyidina Ali salah satunya adalah agar harta-harta titipan orang kafir Makkah yang dititipkan kepada Rasulullah Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alih wa Shohbihi wa Sallam dapat dikembalikan kepada pemiliknya. Memang dakwah Islam yang dibawa Rasulullah sangat ditentang oleh masyarakat kafir Makkah, akan tetapi karena akhlak Rasul yang sangat mulia dan dikenal jujur dapat dipercaya maka banyak orang-orang kafir ini justru lebih suka menitipkan hartanya kepada Rasulullah yang dikenal amanah. Rasulullah pun tetap menjaga harta non-muslim ini dengan penuh tanggungjawab. Inilah teladan yang dicontohkan Rasulullah yang dapat kita ambil hikmahnya. Sebagai umat Islam kita harus senantiasa berbuat kebaikan dan tidak mengambil hak orang lain meski itu milik non-muslim sekalipun. Begitu juga dengan hutang yang harus dibayarkan, jangan disepelekan menunda-nunda pembayaran hutang jika memang sudah bisa membayarnya. Lihatlah bagaimana Rasulullah mendidik umatnya untuk mengembalikan hak orang lain, bukan malah memakan dan mendzoliminya.

Peristiwa lain terkait kejadian hijrah yang cukup menggemparkan adalah rencana orang-orang kafir yang sepakat untuk membunuh Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alih wa Shohbihi wa Sallam. Rencana busuk ini dihembuskan langsung oleh Syetan yang menyamar sebagai manusia dengan mengajak musuh-musuh Islam melakukan pembunuhan bersama-sama diwakili oleh orang-orang yang kuat. Dengan begitu, tidak ada yang dapat disalahkan atas aksi pembunuhan Rasulullah karena dilakukan banyak orang. Ilmu warisan Syetan ini kemudian sekarang justru diadopsi oleh para koruptor. Kalau dahulu Syetan menebarkan ide pembunuhan Rasulullah dilakukan bersama-sama, kini para koruptor melakukan korupsi pun sukanya bersama-sama agar tidak mudah diketahui.

Renacana aksi pembunuhan terhadap Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alih wa Shohbihi wa Sallam pun menuai kegagalan total. Rasulullah bersama sahabat terbaiknya Sayyidina Abu Bakar Radhiyallohu ‘Anhu berhasil keluar kota Makkah hijrah ke Madinah. Di tengah perjalanan, keduanya singgah menginap di sebuah gua untuk menghindari kejaran orang-orang kafir. Terjadilah sebuah peristiwa yang begitu mengharukan luar biasa. Tatkala Rasulullah tidur di pangkuan Sayyidina Abu Bakar, seekor ular menggigit kaki sahabatnya ini. Sambil menahan rasa sakit agar tidak membangunkan Rasulullah, tidak terasa air mata Sayyidina Abu Bakar menetes keluar dan jatuh ke pipi Rasulullah. Barulah Rasulullah tahu kalau sahabatnya sedang menahan rasa sakit akibat digigit ular tersebut. Menurut para ulama, ular yang menggigit Sayyidina Abu Bakar sebenarnya hanya ingin memandang wajah indah Rasulullah. Karena cemburu ditutupi oleh kaki Sayyidina Abu Bakar, maka ular ini pun menggigitnya.

Apa yang dapat diambil dari peristiwa hijrah ini? Habib Syech menjelaskan bahwa kita juga harus berhijrah menjadi orang yang baik, tidak mudah mengeluh, sedikit sedikit mengeluh, sedikit sedikit minta bantuan. Tengok Sayyidina Abu Bakar di saat digigit ular tidak langsung mengeluh kepada Rasulullah kalau dirinya sakit kena gigitan ular. Ketika ditanya pun, sahabat Abu Bakar menjawab tidak ada apa-apa. Setelah didesak oleh Rasulullah barulah Sayyidina Abu Bakar mengakuinya. Untuk itulah mari kita menjadi manusia yang pertama yang terdepan dalam berbuat baik, terlebih kepada sesama manusia, bukan yang sedikit sedikit mengeluh.

Di akhir mau’idzoh hasanahnya sebelum penutupan, Habib Syech mengatakan shalawat itu dapat mendatangkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Nabi Muhammad adalah nabi pembawa rahmat. Oleh karena itu, orang yang suka bersholawat insya Allah tidak akan mudah marah, hatinya luas, dan rizkinya pun luas. Makanya perbanyaklah bersholawat kepada Sayyidina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alih wa Shohbihi wa Sallam. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan shalawat Diba’, Mahalul Qiyam, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

FOTO DOKUMENTASI SOLO BERSHOLAWAT – 31 OKTOBER 2015
(Image by Syekhermania Klaten dan Surabaya)

Solo Bersholawat

Solo Bersholawat

Solo Bersholawat

Solo Bersholawat

Solo Bersholawat

Solo Bersholawat

Solo Sholawatan

Solo Sholawatan

Solo Sholawatan

Solo Sholawatan

Solo Sholawatan

Tulisan berjudul Untuk Kali Ketiga, Pemkot Solo Gelar Sholawat Akbar Bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf terakhir diperbaharui pada Sunday 1 November 2015 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment