NU Rahmatan Lil ‘Alamin

SHARE & LIKE:
  • 848
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
    848
    Shares

Tulisan ini diawali dengan sebuah fakta, bahwa Indonesia bukan hanya negeri dengan sejuta Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, strategis sebagai jalur perdagangan internasional. Indonesia juga adalah negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, heterogen di berbagai aspek: budaya, bahasa, mazhab, namun tetap berada dalam suasana damai dan toleran. Beberapa sahabat saya dari Iran yang pernah tinggal beberapa bulan di Indonesia bahkan menyebutnya sebagai surga. Mengapa? Ya, karena di sini perbedaan mazhab hidup layak dan berdampingan, layaknya di surga.

Dua tahun yang lalu kami mendampingi delegasi Indonesia dalam perhelatan MTQ Internasional ke-29 di Tehran, Iran, bertepatan dengan memanasnya konflik di Suriah yang juga terasa hingga ke negeri para mullah ini. Tak kurang 50 negara dari Eropa, Asia, Timur Tengah hingga Amerika Latin mengirimkan delegasinya. Indonesia mendapatkan peringkat ke 3 itu hal lumrah, tapi bukan itu yang menarik perhatian saya.

Adalah ketertarikan delegasi dari negara-negara timur tengah seperti Bahrain, Suriah, Mesir hingga Arab Saudi terhadap budaya Indonesia yang begitu ramah dan penuh kedamaian. Hal yang mereka soroti adalah, umat Islam Indonesia menempatkan Islam sebagai pemersatu. Walaupun terdapat beragam mazhab dan pemikiran serta suku, namun hal tersebut tak menjadikan alasan untuk berselisih dan bahkan berkonflik, berbeda dengan negara-negara muslim di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya yang begitu mudah tersulut konflik karena perbedaan madzhab maupun kepentingan kelompok dan golongan. Begitu besar keingintahuan mereka akan Indonesia yang belum pernah mereka baca secara utuh.

Bagi dunia Barat, Indonesia sudah sangat familiar dengan berbagai dinamika keberagamaan yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian. Hal ini disebabkan intensnya dialog antara Indonesia dengan dunia Barat, terutama melalui para sarjana kedua belah pihak yang melakukan studi. Indonesia banyak mengirim para pelajar untuk menimba ilmu di berbagai negara Barat, begitu pun sebaliknya. Sehingga wajar jika transformasi pengalaman keduanya telah terjalin dalam waktu yang cukup lama.

Dialog Intra Dunia Islam

Sementara, transformasi pemikiran, keilmuan dan pengalaman dengan negera-negara muslim di kawasan Timur Tengah sangatlah minim, bahkan bisa disebut sangat jomplang. Kita lebih banyak mengirim pelajar untuk menempuh pendidikan di negera-negara timur tengah, sementara hanya sedikit mereka yang belajar di Indonesia. Saya teringat dengan ide Azyumardi Azra, bahwa sudah saatnya Timur Tengah belajar Islam kepada Indonesia. Selain akan terjadi transfromasi pengalaman dna keilmuan, juga sebagai pintu untuk dialog keagamaan yang cenderung terputus di antara kelompok-kelompok muslim di kawasan Timur Tengah.

Kita semua melihat bahwa perhatian muslim Indonesia terhadap isu-isu dunia Islam begitu besar, seperti Palestina misalnya. Tidak hanya demonstrasi, bahkan telah banyak relawan dan donasi telah disalurkan kepada masyarakat Palestina. Begitu pun, Indonesia berperan dalam pasukan perdamaian seperti di Sudan dan Lebanon, bahwa Indonesia dipilih bukan tanpa sebab. Pengalaman Indonesia sebagai negeri muslim yang moderat adalah satu di antara alasan kuat yang menempatkan Indonesia diterima oleh seluruh kelompok yang berselisih. Dari beberapa diplomat kita di Timur tengah saya sempat mendengar, bahwa Indonesia didesak pula berperan dalam perdamaian di Afghanistan dan Irak.

Melihat kenyataan di atas, kita meyakini bahwa bukan hanya Barat yang berkeinginan agar Indonesia memperkuat perannya dalam dialog peradaban Islam-Barat, namun juga negara-negara muslim sangat merindukan peran Indonesia dalam menjembatani dialog internal, dialog Sunni-Syiah misalnya. Bagaimanapun konflik yang kini terjadi semakin berkembang pada konflik sektarian, walaupun tak bisa kita pungkiri ada begitu kuat kepentingan politik dan ekonomi di balik semua itu.

NU dan Transformasi Moderasi Islam

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam yang telah menegaskan perannya dalam penguatan moderasi Islam, tentu sangat ditunggu kontribusinya terhadap dialog peradaban intra umat Islam, antar dunia Islam. Hal yang lebih besar adalah NU menjadi mediator dunia Islam, menjembatani dialog keagamaan dalam meminimalisir konflik yang kian hari semakin meruncing dan kompleks.

Dengan jaringan, SDM dan infrastruktur yang luas, NU akan lebih leluasa membuka akses dialog, baik goverment to goverment (G to G) maupun people to people (P to P). Dalam konteks diplomasi G to G, tentunya akses tersebut telah diemban oleh Kementerian Luar Negeri, hanya perlu penguatan beberapa aspek saja. Hal lebih besar adalah bagaimana menjembatani dialog P to P internal dunia Islam. Indonesia harus mendorong terbukanya akses dialog agar ide dan pesan masyarakat muslim Indonesia dapat tersampaikan secara baik kepada dunia Islam, kepada kelompok-kelompok yang tengah berkonflik.

Kita jangan terlalu sibuk mengorek kesalahan asing dalam konflik umat Islam, kita harus akui bahwa minimnya dialog internal dunia Islam, baik dalam level G to G maupun P to P, berkontribusi besar terhadap lahirnya konflik. Semakin tajamnya konflik Sunni-Syiah dan menyeret pemerintahan beberapa negara terlibat dalam konflik, adalah cermin bahwa dialog tersebut tersendat, bahkan bisa dikatakan terputus. Maka, dialog P to P akan memberi ruang yang luas bagi upaya perdamaian di saat diplomasi dan dialog G to G banyak terkendala berbagai kepentingan politik, ekonomi dan lainnya.

Dialog juga akan menjembatani transformasi moderasi Islam yang telah dibangun berpuluh-puluh tahun oleh ulama dan tokoh agama di Nusantara. Pengalaman Indonesia dalam membangun toleransi internal dan eksternal, mengelola konflik dan membangun harmoni dalam keragaman, adalah pengalaman yang juga dibutuhkan dunia Islam yang terkenal heterogen. Pada akhirnya, kita mendorong agar trasformasi pengalaman keberagamaan Nusantara dapat menjadi penengah atau bahkan solusi saat hubungan antar dunia Islam tengah merenggang.

Kita mendambakan NU tampil sebagai lokomotif perdamaian dunia Islam, sebagaimana perannya dalam merajut harmoni nusantara. Keberadaan NU adalah kabar gembira bagi perdamaian dunia, karena NU itu adalah rahmatan lil’alamin. Harapan ini tentu bukan sekedar puja puji, akan tetapi didasarkan pada fakta dan pengalaman, bahwa NU memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam berdialog dengan seluruh dunia, baik Barat mupun dunia Islam. Dan pada saat yang bersamaan, sejarah panjang moderasi Islam di Indonesia menempatkan bangsa ini begitu diterima kehadirannya oleh dunia Islam, meskipun mazhabnya berbeda. Tentu, kedua hal inilah kekuatan yang kita titipkan pada keluarga besar nahdliyyin.

Wallahu a’lam bishowab.

Oleh: Jaja Zarkasyi, MA, Direktur Rumah Moderasi Islam (RUMI)/ Dirjen Bimas Islam Kemenag RI.

Tulisan berjudul NU Rahmatan Lil ‘Alamin terakhir diperbaharui pada Thursday 18 February 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


One thought on “NU Rahmatan Lil ‘Alamin

Post Comment