Pidato Grand Syaikh Al-Azhar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
Pidato Grand Syaikh Al-Azhar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb menerima gelar Doctor Honoris Causa (HC) dalam bidang Pendidikan Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang, Rabu (24/02/2016). Foto: Kemenag RI.

Pidato Grand Syaikh Al-Azhar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Sungguh sangat bahagia dan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan para ulama, cendikiawan dan para mahasiswa di kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dan juga sangat bahagia sekali bisa mencium aroma harumnya keilmuan di lingkungan kalian, juga melihat keriduan kalian kepada pengetahuan, yang terpancar dari tatapan mata kalian.

Saya betul-betul iri dengan keadan kalian. Kalian mengingatkan saya pada masa-masa belajar, masa-masa belajar dari satu ruak ke ruak yang lain, menikmati kitab-kitab turats, atau menemukan ide-ide baru, atau sekedar termotivasi dari ilmuan muda tentang jalan tercepat untuk mencapai impian kita.

Orang yang memilih mengajar sebagai pekerjaan dan tujuan hidupnya mengetahui betul apa yang saya rasakan. Yaitu risalah para nabi terdahulu. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya aku diutus untuk menjadi pendidik.” Sebagaimana diketahui oleh setiap yang merasakan indahnya menemukan sebuah hakekat, setelah sekian lama mencarinya.

Dan ketika seseorang menunggangi kuda, tidak ada yang bisa menandingi indahnya menunggang kuda dengan gerakannya yang sangat cepat kecuali duduknya seorang yang alim di depan lembar demi lembar buku. Sebagai mana dikatakan oleh Abu Thayib Al-Mutanaby:

عَزُّ مَكانٍ في الدُنَى سَرجُ سابِحٍ

وخَيرُ جَليسٍ في الزَمانِ كتـــــابُ”

Sesunguhnya pengetahuan adalah semulia-mulianya hal yang dicari manusia. Dan itu adalah kewajiban yang utama bagi orang yang berakal, juga warisan para nabi, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu, dan ilmu adalah kunci pintu surga, “Barang siapa berjalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”, dan ilmu adalah pelindung umat dari kesesatan. Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu setelah diberikan kepadamu dengan sekaligus, tapi Allah mengambil ilmu dengan cara mengambil orang-orang alim dengan kematiannya, lalu yang tersisa adalah manusia-manusia bodoh, dimintai fatwa, lalu mereka berfatwa dengan pendapat mereka sendiri, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.

Saya ucapkan selamat atas kehidupan yang sangat bahagia ini, selamat atas kemuliaan yang diberikan Allah kepada kalian, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Quran Surat al-Mujadilah: 11).

Saya katakan kepada kalian, telah berdiri sejak ribuan tahun bahkan lebih di Mesir sebuah menara yang menjulang tinggi, dan menerangi seluruh penjuru dunia, khususnya di Mesir sendiri, ia adalah Al-Azhar Asy-Syarif. Sesungguhnya karena Al-Azhar-lah saya berdiri di depan kalian hari ini. Dan saya menganggap penghargaan yang diberikan kepada saya adalah penghargaan kepada Al-Azhar, baik sebaga Universitas, maupun sebagai masjid pusat keilmuan. Bahkan ini adalah penghargaan bagi seluruh umat muslim, yang direpresentasikan oleh para abdi Al-Azhar dan abdi ilmu dan ulama dan oleh orang yang faqir atas ridho Allah yang sedang berdiri di hadapan kalian sekarang.

Para hadirin, Al-Azhar-sebagaimana kita ketahui bersama bukan hanya ma’had atau universitas international saja, tapi pada hakikatnya Al-Azhar adalah risalah, manhaj, dan pemikiran

Al-Azhar mengemban amanat ilmu, dakwah dari risalah Islam, akhir risalah dari Allah untuk kemanusian semuanya. Risalah kedamaian, kesetaraan, keadilan, kemuliaan, kemanusiaan, serta risalah pembebasan dari segala hal yang mengikat dan membuat manusia sulit beriman kepada setiap apapun yang diutus Allah kepadanya

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 285].

Al-Azhar mempercayai dan menjalani risalah ini berdasarkan manhaj ahlussunnah wal jamaah, sebagaimana terepresentasikan oleh pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dalam maqalatul-islamiyyin dan buku-bukunya yang lain. Sebagaimana juga tercermin di pemikiran Aimmah Al-Arba’ah. Risalah yang bersih dari fanatisme. Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad adalah nama dari tokoh-tokoh yang pemikiran fikihnya dipelajari di Al-Azhar bedasarkan toleransi berfikir, dan cara pandang yang objektif, penelitian yang didasari keikhlasan niat dan tujuan untuk mencari dalil terkuat dan cocok dengan kebutuhan umat yang hidup di keadaan yang selalu berkembang dan berubah. Berkaitan dengan ini, sangatlah indah apa yang dikatakan Amirusy Syuara’ Ahmad Syauqi tentang Al-Azhar Asy-Syarif:

وسما بأروقة الهدى فأحلها *** فرع الثريا وهي في أصل الثرى

ومشى إلى الحلقات فانفجرت له *** حلقا كهالات السماء منورا

حتى ظننا الشافعي ومالكا *** وأبا حنيفة وابن حنبل حضرا

Al-Azhar berabad-abad telah membangun kemampuan mahasiswanya dalam bahasa Arab, lalu mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah dan ilmu-ilmu yang menopang dua ilmu tersebut. Yaitu ilmu ushuluddin, ushul fiqih, ilmu Al-Quran, ilmu hadits, fikih madzhab dan fikih perbandingan. Dengan kesadaran akan apa yang membantunya di zamannya, peradaban mereka terdahulu, fase perkembangnnya yang bermacam-macam, sumber kebudayaan kemanusiaan secara umum dari filsafat timur dan barat, sastra klasik dan kontemporer, agar terbekali dengannya, dengan apa yang membantunya untuk memahami masa lalu dan kini, dan mampu untuk mengikuti masa depan dan kemampuan berijtihad di kejadian kejadian yang baru berdasarkan ilmu dan asas yang telah ditetapkan.

Kalau kalian bertanya tentang ciri manhaj Al-Azhar dalam mempelajari ilmu, maka akan saya katakan, ia adalah manhaj memahami turast dengan sangat dalam sehingga alumninya bisa memenuhi dan menjawab permasalahan umat. Sampai terbentuk kemampuan bahasa, kemampuan yang membantu para alumninya untuk memenuhi kebutuhan umat

Alhamdulillah, Allah memberi saya kemampuan untuk bergabung ke naungan Al-Azhar, selepas diasuh dengan asuhan yang sangat religius di dalam rumah yang dipenuhi ruh spiritual dan dan ilmu, oleh seorang ayah yang perhatian, dan yang telah mewariskan banyak hal, yang semoga Allah memberikan kepadanya sebaik-baik pahala. Lalu merasakan nikmatnya arahan dari para guru, dari masyayikh Al-Azhar. Mereka mengabungkan antara ilmu syariat berdasarkan metode para imam terdahulu sebagaimana juga berdasarkan hikmah Islam, sebagai mana yang diciptakan filosof Arab Ya’qub Al-Kindy, Al-Junaid Al-Baghdady dan Al-Harits Al-Muhasiby, Abu Qasim Al-Qusyairi dan Abu Hamid Al-Ghazaly, pengarang kitab “Al-Fath” Ibn Hajar Al-Asqolany, lalu Hasan Al-Attar , Ulaisy, Muhammad Abduh, Al-Maragy , Mustafa Abdul-Razzaq, Sulaiman Dunya dll.

Itu tadi semua adalah akar dari seruan Al-Azhar yang berciri moderatisme dalam beraqidah, berada di antara pengikut salaf yang sangat berhati-hati dari ‘tashbih’ dan berhati-hati dari kesalahan menta’wil, dan khalaf yang cerdas dalam memandang dan mentakwilkan berdasarkan gramatikal Arab dan teks syariah, berjalan di atas apa yang telah diriwayatkan Imam Dar Al-Hijrah, “Istiwa’nya Allah ma’lum, caranya tidak diketahui, beriman dengannya wajib, dan mempertanyakan tentang itu bid’ah”. Beginilah bersikap moderat antara ekstrim dan menggampangkan, atau berpaling dari prinsip-prinsip berdalil, atau mentarjih pendapat pendapat ahli fikih tanpa ilmu.

Diterimanya dakwah moderat Al-Azhar disebabkan adanya ruh yang menggabungkan antara pemikiran ilmiyah dan ruh kesufian, dan berpegang teguh pada batas tengah dalam aspek akidah maupun amal, dan apa yang muncul dari ruh keislaman yang otentik yang memimpin dunia islam, tanpa melihat suara-suara yang tidak.

Saya sungguh sangat bahagia bisa datang di acara yang mulia ini, datang keada saudara-saudaraku di Jawa. Saya pernah berkhidmah kepada ilmu dan generasi baru, di seluruh universitas di dunia. Maka ini saya datang kepadamu semua , sebagai representasi Al-Azhar Asy-Syarief yang saya pimpin. Dan saya sungguh-sungguh percaya dengan karunia dan taufiq Allah, serta percaya dengan keinginan dan keikhlasan kalian atas agama kalian, dan khazanah kalian yang tua dan kebudayaan kita yang manusiawi dan toleran.

Akhirnya, saya berterimakasih untuk hadirin semua atas penganugrahan gelar Dr (HC). Ini saya anggap sebagai pengakuan dari kalian semua atas persaudaraan antara Mesir Al-Azhar dan Universitas Islam Negeri Malang Maulana Malik Ibrahim.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

(Pidato Grand Syaikh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad Thayyeb saat menerima gelar Doctor Honoris Causa (HC) dalam bidang Pendidikan Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang di Auditorium Gedung Rektorat UIN Maliki Malang pada Rabu 24 Februari 2016. Sumber: Majalah Gontor)

Tulisan berjudul Pidato Grand Syaikh Al-Azhar di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang terakhir diperbaharui pada Friday 26 February 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment