Guru di AS Masuk Islam Dengan Perantara Anak 4 Tahun

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
Sayyidil Habib Ali Al Jufri
Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, Sayyidil Habib Ali Al Jufri. Foto: MMN

Kisah Nyata: Seorang Guru di AS Masuk Islam Dengan Perantara Anak 4 Tahun

Dikisahkan ada seorang ibu muslimah di Amerika Serikat (AS) khawatir terhadap anaknya, dan berkata kepadaku, “Aku bimbang atas apa yang terjadi kepada anak saya”.

Anaknya berumur sekitar 3,5 tahun atau 4 tahun. Saya bertanya, “Masih berumur 4 tahun apa yang kamu bimbangkan?”

Sang Ibu menjawab, “Benar, dia pergi ke sekolah, teman-temannya di sekolah dan guru-guru perempuan yang berlainan agama mempengaruhi pemahaman akhlak, muamalah, pembicaraan tentang Nabi Isa ‘Alahis Salam dan kisah kelahirannya. Kadang anak itu makan daging khinzir (babi) dari kue-kue yang didapatnya dari teman-temannya. Anakku pernah bertanya kepadaku beberapa persoalan, dia mendengar penyangkalan tentang Ke Esaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Ini membuat bimbang saya kalau Allah murka kepada saya apabila saya tidak waspada dalam mendidik anak saya”, lanjut Ibu yang khawatir terhadap anaknya yang masih kecil.

Saya katakan kepadanya bahwa itu betul, kita akan dihisab, mendidik (anak) bukan hanya sekedar memberinya makanan, minuman dan pakaian, serta merealisasikannya untuk selembar ijazah dan pekerjaan. Bukan itu saja ukuran keberhasilan di dalam didikan. Akan tetapi, apakah yang kamu ajarkan dalam merajut hubungan dengan Allah.

Saya katakan lagi kepada perempuan itu perkara kedua, perhatikan perkataan ini. Saya katakan kepadanya, “Didik anak ini untuk beradab terhadap gurunya”.

(Ibu itu pun protes), “Saya marah dan bimbang dengan gurunya, (tapi dusuruh) ‘didik anak ini untuk beradab keapda gurunya’ “

“Saya bimbang kalau guru itu menukar agama anak ini”, lanjut si Ibu.

Saya berkata, “inilah caranya yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Didiklah anakmu untuk menghormatinya walaupun dia BUKAN seorang Islam, didiklah (anakmu) adab terhadap guru itu walaupun banyak pelajar lain yang tidak beradab terhadapnya dengan membuat kericuhan atau mencelanya, didiklah dia untuk menasehati teman-temannya supaya dia berkata kepada teman-temannya ‘Perkara ini tidak baik, Islam mengajarkan kita untuk beradab kepada guru kita’. (Dan juga) sediakan makanan untuk anakmu dan letakan di dalam tas dan masukan lebih banyak satu atau dua kali lipat lebih banyak (makanan) dari biasanya, katakan kepadanya (kepada si anak), ‘Jika ada teman yang memandangmu, berikan makanan tersebut dan katakan ‘Islam mengajarkan kami untuk bermurah hati’ “

Tahukah apa hasilnya?

Kamu akan merasa heran. Guru itu pun menjadi seorang Muslim. Kebanyakan kita sudah mencapai umur 40 tahun atau 50 tahun tapi tidak ada seorangpun yang menjadi Muslim karena kita. Sementara ditangannya masuk Islam pemandu kereta yang datang dari negara lain, sedangkan dia tidak memikirkan untuk mengislamkannya. Adakah akhlaku bersamanya? Adakah perbuatanku sehingga meningkatkan keagamaannya dan mengislamkannya? Adakah kita komitment dengan dakwah Islam di dalam hati kita? Adakah kita menyadari tentang agama kita dari perkara shalat, puasa serta menyempurnakan amalan? Begitu juga kita sebagai pembawa risalah untuk disampaikan kepada orang lain, di dalam menyadarkan orang lain?

Tahukah kamu apa yang terjadi?

Anak yang berusia 3,5 tahun atau 4 tahun ini, berjumpa dengan gurunya dan guru tersebut tertarik dengan adabnya. Pada suatu ketika guru itu datang dari arah belakang murid-muridnya, dan guru itu mendengar sekumpulan murid yang mencela guru tersebut. Dan guru itu mendengar anak itu berkata, “Jangan mencela, ibu saya berkata kalau Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mengajarkan ktia beradab terhadap guru kita”.

Guru itu terhenti dan memanggil anak itu dan bertanya, “Apa yang kamu katakan kepada mereka?”. Katanya lagi, “Jangan takut.. katakan kepadaku”.

Anak itu berkata, “Aku menyuruh mereka beradab dengamu karena kaulah yang mengajari kami”.

(Gurunya bertanya lagi) “Dari mana kata-katamu ini?”

Anak itu berkata, “Ibu saya berkata bahwa Nabi tidak suka terhadap orang yang tidak beradab dengan gurunya”.

Guru itu berhenti dan diam, sesekali dia melihat pelajar itu menawarkan kepada pelajar-pelajar lain makanan. sedang dalam masyarakat setempat, sangat ganjil (aneh) perbuatan memberi sesuatu tanpa mengahrapkan balasan. Perkara ini dianggap sulit, biasanya memberi sesuatu karena ingin mendapatkan balasannya.

Kata guru tersebut, “Kau memberi mereka makanan? Adakah mereka mengancammu, adakah mereka memukulmu supaya kamu memberikan makanan kepada mereka?”.

Anak itu berkata, “Tidak, ibu berkata kepada saya bahwa, Nabi sangat cinta orang yang pemurah, suka sifat pemurah, saya ingin menjadi pemurah agar Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mencitai saya”.

Sang guru berkata, “Bolehkah saya menghubingi ibu kamu?”.

Guru itupun menghubungi ibunya, hal tersebut terjadi di AS lebih kurang 2,5 tahun atau 3 tahun yang lalu (perhitungan waktu saat Habib Ali Al Jufri memberikan tausiyah).

Guru itu datang kepada ibunya dan berkata, “Saya melihat akhlak anak ini sangat baik, anakmu berkata kepadaku bahwa agamamu yang mendorong semua hal itu apakah benar itu ajaran agamamu?”.

Sang ibu menjawab, “Betul, Nabi memerintahkan (ini dan itu)”, dijelaskan sedemikian rupa, dan oleh sebab itu guru itu akhirnya masuk Islam.

Semoga maksud dari kisah ini sampai kepada kalian semua yang menyadarkan, kitalah umat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam yang dimuliakan dengan akhlak, pegangannya kitab yang diturunkan kepadanya, berjalan di atas lidahnya, dan meninggalkannya kepada kita sebagai petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keadaan seperti inilah yang kita perlukan kepada seluruh kehidupan kita. Kaji maksud ini di rumah tanggamu, di atas gudang-gudangmu dan pekerjaanmu sehingga kita terbebas dari kelemahan yang ada pada diri kita, terbebas dari kelemahan bukan semata-mata dengan kekuatan anggota badan atau tangan atapun senjata, bukan itu saja.

Tulisan berjudul Guru di AS Masuk Islam Dengan Perantara Anak 4 Tahun terakhir diperbaharui pada Wednesday 23 March 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment