MP3 Kajian Fiqih Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
Gerhana Matahari
MP3 Kajian Fiqih Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengumumkan bahwa pada Rabu pagi 29 Jumadil Ula 1437 H bertepatan dengan 9 Maret 2016 akan terjadi peristiwa gerhana matahari total di beberapa wilayah Indonesia. LF PBNU menghimbau dan mengajak umat Islam secara umum agar memanfaatkan momen ini untuk melakukan pengamatan, shalat gerhana, dzikir, kegiatan sosial, atau aktivitas kefalakiyahan lainnya.

Terkait shalat gerhana maka sekiranya penting diketahui umat Islam tentang bagaimana tata cara pelaksanaan shalat gerhana ini. Dalam literatur fiqh gerhana disebut Kusuf (كسوف) dan Khusuf (خسوف). Kedua kata tersebut bermakna sama, yakni gerhana. Namun kalangan Fuqaha’ memakai lafadz Kusuf (كسوف) untuk gerhana matahari (كسوف الشمس) dan lafadz Khusuf untuk gerhana bulan (خسوف القمر).

Dalam istilah Fuqaha’ Kusuf adalah peristiwa hilangnya sinar matahari baik sebagian atau keseluruhan pada siang hari karena terhalang posisi rembulan yang melintas di antara matahari dan bumi. Sedangkan Khusuf adalah peristiwa hilangnya sinar rembulan baik sebagian atau keseluruhan karena terhalang bayangan bumi yang berada diantara matahari dan rembulan.

Para ulama fiqih sepakat bahwa hukum melaksanakan shalat gerhana baik shalat gerhana bulan (shalat sunnah Khusuf) maupun shalat gerhana matahari (shalat sunnah Kusuf) adalah sunnah muakkad, yang artinya sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Shalat gerhana baik Kusuf maupun Khusuf dikerjakan dengan 2 rakaat, dapat dilaksanakan secara sendiri maupun berjamaah. Yang afdhol dan lebih utama adalah dengan berjamaah.

Adapaun tata cara shalat gerhana baik shalat Kusuf maupun Khusuf menurut para ulama ahli Fiqih dapat dilakukan dengan 3 cara, mulai dari tingkatan yang paling mudah hingga yang paling sempurna. Cara pertama, shalat gerhana dikerjakan seperti shalat sunnah 2 rakaat sebelum Shubuh atau shalat sunnah 2 rakaat Tahiyyatul Masjid atau shalat sunnah Istisqa. Yakni mengerjakan shalat gerhana sebagaimana shalat sunnah biasa. Ini merupakan cara yang paling mudah karena tidak ada perbedaan sama sekali dengan shalat-shalat sunnah lainnya. Cara yang kedua dikerjakan sebanyak 2 rakaat dimana setiap raka’at shalat gerhana ada dua qiyam, dua pembacaan Fatihah, dua ruku, dua i’tidal, dan dua sujud. Cara inilah yang biasanya banyak dikerjakan oleh umat Islam seperti di Indonesia. Terakhir, cara ketiga yang merupakan cara yang paling sempurna, adalah dengan mengerjakan shalat gerhana sama seperti cara yang kedua, tetapi dengan bacaan surat Quran yang lebih panjang, lama ruku, dan sujud yang juga lebih diperpanjang.

Untuk selengkapnya, silahkan simak penjelasana tata cara shalat gerhana yang baik dan sempurna berikut ini:

Ketentuan Umum:

  • Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih dahulu,
  • Waktu pelaksanaan shalat gerhana sejak terjadi gerhana hingga matahari/ rembulan muncul kembali. Apabila matahari/ rembulan sudah muncul kembali maka waktu pelaksanaan shalat gerhana sudah habis dan tidak disunnahkan qadla’.
  • Suci dari hadats (besar dan kecil) dan berwudhu sebelum shalat sebagaimana biasanya ketika akan shalat,
  • Disunnahkan mandi sebelum melakukan shalat gerhana sebagaimana shalat Jum’ah dan shalat ied,
  • Disunnahkan melakukan shalat gerhana secara berjamaah di Masjid,
  • Tidak disunnahkan adzan dan iqamah, tetapi mengumandangkan kalimat: الصلاة جامعة (ash-Shalatu Jami’ah) sesaat sebelum melakukan shalat gerhana,
  • Jumlah rakaat shalat gerhana adalah 2 (dua) rakaat.
  • Setiap rakaat terdiri dari dua kali qiyam (berdiri), dua pembacaan Fatihah, dua ruku, dua i’tidal, dan dua sujud,
  • Dalam shalat gerhana matahari disunnahkan memelankan bacaan (israr) sebagaimana shalat yang dikerjakan pada siang hari, sedangkan dalam shalat gerhana rembulan disunnahkan mengeraskan bacaan (jahr),
  • Disunnahkan melakukan 2 (dua) khutbah setelah shalat gerhana sebagaimana khutbah shalat Jum’ah dan khutbah ied dalam rukun-rukunnya.
  • Disunnahkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar dan sedekah.

Niat Shalat Gerhana

Untuk niat shalat gerhana disesuaikan dengan kejadian gerhana yang terjadi pada saat itu. Jika saat itu terjadi gerhana matahari maka berniatlah shalat gerhana matahari (Kusufisy Syams) dan jika terjadi gerhana bulan maka berniatlah shalat gerhana bulan (Khusufil Qomar). Kalau pun niatnya terbalik-balik, semisal Kusuf untuk gerhana bulan atau Khusuf untuk gerhana matahari maka tidak apa-apa dan tetap sah shalatnya. Kemudian jika sebagai imam maka berniatlah sebagai Imaman dan jika sebagai Makmum berniatlah sebagai Makmuman.

Adapun bacaan niat shalat gerhana matahari (Kusufisy Syams) adalah sebagai berikut:

أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ (اِمَامًا / مَأْمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat mengerjakan shalat sunnah gerhana matahari dua rakaat (Imam/ Makmum) karena Allah Ta’ala”.

Sedangkan bacaan niat shalat gerhana bulan (Khusufil Qomar) adalah sebagai berikut:

 أُصَلِّيْ سُنَّةً لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ (اِمَامًا / مَأْمُوْمًا) لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya niat mengerjakan shalat gerhana bulan dua rakaat (Imam/ Makmum) karena Allah Ta’ala”.

Raka’at Pertama Shalat Gerhana:

  • Takbiratul Ihram diiringi dengan niat di dalam hati untuk mengerjakan shalat gerhana (kusuf atau khusuf),
  • Membaca do’a iftitah, seperti do’a iftitah dalam shalat:

اَللّٰهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرً وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ حَنِيِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمْحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

  • Membaca ta’awwudz (‘Audzubillahi minasyaitanir rajim),
  • Membaca surah al-Fatihah,
  • Membaca surat al-Baqarah atau semisalnya setelah surat al-Fatihah,
  • Ruku’ dan membaca tasbih. Pada Ruku’ pertama ini membaca Subhanarobbiyal ‘adzimi wa bihamdih atau semisalnya berulan-ulang, yang lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 100 ayat dari surat al-Baqarah,
  • I’tidal (bangun dari Ruku’),
  • Membaca surat al-Fatihah lagi,
  • Membaca surat Ali Imran atau surat al-Quran sebanyak 100 ayat setelah surat al-Fatihah,
  • Ruku’ lagi dan membaca tasbih. Pada Ruku kedua ini lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 80 ayat al-Qur’an,
  • I’tidal (bangun dari Ruku) lagi, dan berthum’aninah,
  • Sujud dan membaca tasbih. Pada Sujud pertama ini lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 100 ayat al-Qur’an,
  • Duduk antara dua Sujud dan membaca do’a yang biasa dibaca di saat duduk dalam shalat serta tidak dipanjangkan do’anya,
  • Sujud yang kedua dan membaca tasbih. Pada Sujud kedua ini lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 80 ayat al-Quran,
  • Kemudian bangun untuk mengerjakan rakaat kedua. Dengan begitu maka selesailah raka’at yang pertama.

Kemudian Melanjutkan ke Raka’at Kedua:

  • Membaca surat al-Fatihah,
  • Membaca surat An-Nisa atau surat semisalnya sebanyak 150 ayat al-Qur’an setelah surat al-Fatihah,
  • Ruku’ dan membaca tasbih. Pada Ruku ketiga ini (Ruku’ pertama di rakaat kedua) lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 70 ayat al-Qur’an,
  • I’tidal (bangun dari ruku),
  • Membaca surat al-Fatihah,
  • Membaca surat Al-Maidah atau surat al-Quran sebanyak 100 ayat setelah surat al-Fatihah,
  • Ruku’ dan membaca tasbih. Pada Ruku’ keempat ini (Ruku’ kedua di rakaat kedua) lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 50 ayat al-Qur’an,
  • I’tidal (bangun dari ruku) dan berthum’aninah,
  • Sujud dan membaca tasbih. Pada Sujud ketiga ini (Sujud pertama di rakaat kedua) lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 70 ayat al-Qur’an,
  • Duduk antara dua sujud dan membaca do’a yang biasa dibaca disaat duduk dalam shalat serta tidak dipanjangkan do’anya,
  • Sujud yang kedua dan membaca tasbih. Pada sujud keempat ini (Sujud kedua di rakaat kedua) lamanya bacaan tasbih adalah seperti membaca 50 ayat al-Qur’an,
  • Duduk untuk Tahiyyat Akhir,
  • Mengucap Salam ke kanan dan ke kiri.

Untuk lebih jelasnya, silahkan simak mp3 kajian fiqih tata cara shalat gerhana (Matahari/ Kusuf dan Bulan/ Khusuf) bersama Al-Ustadz Dr. K.H. Mohamad Najib Amin berikut ini:

MP3 KAJIAN FIQIH SHALAT GERHANA (MATAHARI DAN BULAN)

Download MP3 Kajian Fiqih Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan)

Keterangan:

  • Penceramah: Al-Ustadz Dr. K.H. Mohamad Najib Amin
  • Tema: MP3 Kajian Fiqih Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan)
  • Kitab: Al-Ghayah wa al-Taqrib Matan Abi Syuja’ karya Syihabuddin Abu Syuja’ Ahmad bin al-Husain bin Ahmad al-Ashfihani rahimahullah
  • Tempat: Universitas Al-Ahgaff, Mukalla, Hadhramaut, Yaman
  • Durasi File: 40 menit 19 detik
  • Ukuran File: 6.9 MB

VIDEO PANDUAN TATA CARA SHALAT GERHANA (KUSUF/ KHUSUF)

Tulisan berjudul MP3 Kajian Fiqih Shalat Gerhana (Matahari dan Bulan) terakhir diperbaharui pada Monday 7 March 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


Post Comment