Hizbut Tahrir, Partai Politik Liberal Berkedok Islam

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
Hizbut Tahrir, Partai Politik Liberal Berkedok Islam. Membuka Selubung Liberal dalam Ideologi Hizbut Tahrir. Scan Kitab at-Tafkir (Kitab Mutabanat Hizbut Thrir) karangan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani hal.149. Foto: Ustadz Bahrur Roesyid.
Scan Kitab at-Tafkir (Kitab Mutabanat Hizbut Thrir) karangan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani hal.149. Foto: Ustadz Bahrur Roesyid.

Membuka Selubung Liberal dalam Ideologi Hizbut Tahrir

Diantara ciri khas pemikiran Liberal adalah menghilangkan otoritas ulama. Menurut kelompok liberal, kita tidak perlu taklid kepada para Ulama, mereka manusia, kami juga manusia dan sama-sama bisa berpikir. Mengikuti pendapat para ulama berarti pengebirian akal yang kami miliki. Demikian kaum liberal berpikir, karenanya tidak aneh jika dalam setiap diskusi, baik yang bersifat polemis di media massa dan buku-buku, maupun diskusi dialogis dalam forum debat terbuka, mereka menolak pendapat para ulama. Sementara ciri khas kaum Muslimin Ahlussunnah wal Jamaah adalah memberikan penghargaan yang tinggi terhadap para ulama serta otoritas penuh dalam penafsiran teks-teks keagamaan.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda,“Para ulama itu pewaris para nabi. (HR. Ibn Asakir dan Ibn al-Najjar).

Apabila para ulama berposisi sebagai pewaris para nabi, tentu saja otoritas mereka dalam penafsiran teks-teks harus dijunjung tinggi dan diikuti oleh umat Islam. Dalam hadits lain, Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda: Laisa minna man lam yu’thi li alimina haqqahu (Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak memberikan otoritas terhadap ulama diantara kami). (HR. Ahmad dan al-Hakim dalam al-Mustadrak).

Para pakar bersepakat bahwa diantara ciri khas liberalisme adalah menolak otoritas ulama. Karena dengan penolakan tersebut akan melahirkan penafsiran yang sembarangan dan ngawur terhadap teks-teks agama. Lebih-lebih ketika penafsiran mereka dilatarbelakangi oleh motif hawa nafsu dan kepentingan pemikiran liberalisme.

Dewasa ini ada kelompok yang sangat militan,tetapi juga menyemaikan paradigma liberalisme tanpa sadar, yaitu kelompok Hizbut Tahrir. Meskipun secara lahiriah, Hizbut Tahrir selalu berseberangan dengan kaum liberal di tanah air, tetapi sebenarnya paradigma liberalisme telah merasuki ajaran Hizbut Tahrir tanpa sadar dengan menghapus otoritas ulama. Penghapusan otoritas ulama telah dikatakan oleh pendiri Hizbut Tahrir, Syaikh Taqiyyuddin al-Nabhani dalam kitab at-Tafkir, hal. 149 sebagai berikut:

متى أصبح قادرًا على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهدًا، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس، وميسر لجميع الناس ولا سيما بعد أن أصبح بين أيدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي ، – كتاب التفكير ص/149

“Sesungguhnya seseorang apabila telah mampu melakukan istinbath, maka ia sudah menjadi mujtahid. Oleh karena itu sesungguhnya istinbath atau ijtihad itu mungkin dilakukan oleh semua orang dan mudah dicapai oleh siapa saja yang menginginkan lebih-lebih setelah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia dihadapan banyak orang dewasa ini” (at-Tafkir hal.149).

Perkataan ini mengesankan terbukanya kemungkinan untuk berijtihad meskipun dengan modal pengetahuan yang sedikit.

Ajakan ijtihad oleh pendiri Hizbut Tahrir tersebut terhadap siapa saja yang ingin menjadi mujtahid, secara tidak langsung merupakan pembunuhan terhadap otoritas ulama yang ditetapkan oleh al-Quran dan Sunnah serta telah menjadi pola keagamaan kaum Muslimin sepanjang masa. Pembunuhan otoritas ulama berarti mengadopsi paradigma liberal secara kasat mata. Karena itu, tidak aneh, jika kemudian kita dapati fatwa-fatwa Hizbut Tahrir yang menyimpang dari ajaran Islam, seperti membolehkan ciuman dengan wanita yang bukan muhrim, boleh menonton film porno, bahkan ada juga yang sempat berpendapat bahwa shalat, zakat dan kewajiban lainnya itu tidak wajib selama khilafah belum berhasil ditegakkan. Hal ini merupakan akibat pembukaan kran ijtihad seluas-luasnya oleh sang pendiri Hizbut Tahrir, yang merupakan ciri khas paradigma liberal.

Baca juga:

Kemudian dalam berbagai tulisan, tidak aneh jika kita dapati para aktivis Hizbut Tahrir yang sebelumnya malas belajar agama kepada para ulama, namun kemudian mereka menafsirkan teks agama dengan logikanya sendiri serta dengan menolak penafsiran para ulama yang otoritatif dalam setiap bidangnya. Hal ini terjadi dalam penafsiran al-Quran, hadits dan hukum-hukum fiqih. Liberal dan Hizbut Tahrir pada intinya tidak ada bedanya dalam paradigma pemikiran, hanya saja, Liberal menolak otoritas ulama secara terang-terangan dan tidak sopan, sementara Hizbut Tahrir menolak otoritas ulama dengan terselubung dan tanpa sadar di belakang tameng terbukanya pintu ijtihad selebar-lebarnya kepada siapapun. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustadz Bahrur Roesyid, Aktivis Bahtsul Masail PCNU Jember.

Tulisan berjudul Hizbut Tahrir, Partai Politik Liberal Berkedok Islam terakhir diperbaharui pada Tuesday 3 May 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


6 thoughts on “Hizbut Tahrir, Partai Politik Liberal Berkedok Islam

    1. Hemat saya. Alangkah lebih elok sekirax penulis langsung berinteraksi dgn hizb scr langsung. Agr bs lbh memahami secara utuh aktivitas dan pandangan hizb. Hingga trhindarlh penafsirn sblh pihak

      Reply
  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلاً بِالفِسْقِ أَوِ الكُفْرِ ، إِلاَّ ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ ، إنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كذَلِكَ

    “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekufuran, melainkan akan kembali kepadanya tuduhan tersebut jika yang dituduhnya tidak demikian.” (HR Bukhari)

    Menuduh muslim yang lainnya adalah sebuah tindakan keji.Jika ingin menulis suatu tuduhan kepada muslim yang lainnya, maka lakukanlah tabayun terlebih dahulu agar apa yang Anda tulis tidak menjadi fitnah yang nantinya akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Anda hanya mengambil penggalan kitab yang Anda asumsikan sendiri tanpa Anda pelajari secara keseluruhan. Di dalam hizbut tahrir tidak pernah diajarkan untuk tidak mengikuti pendapat ulama. Bahkan hizbut tahrir tidak pernah berpandangan bahwa siapa saja bisa menjadi seorang mujtahid dan berijtihad, silahkan Anda baca kitab hizbut tahrir Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah (Kepribadian Islam) jilid 1 bab Ijtihad dan Taqlid. Disana terdapat penjelasan secara gamblang siapa mujtahid dan siapa muqollid (org yang mengikuti pendapat para ulama).
    Juga kebohongan Anda yang mengatakan “…..fatwa-fatwa Hizbut Tahrir yang menyimpang dari ajaran Islam, seperti memboleanhkan ciuman dengan wanita yang bukan muhrim, boleh menonton film porno, bahkan ada juga yang sempat berpendapat bahwa shalat, zakat dan kewajiban lainnya itu tidak wajib selama khilafah belum berhasil ditegakkan.”. Ini adalah sebuah fitnah dan kebohongan, karena Hizbut tahrir memandang perbuatan2 yang Anda sebutkan tersebut adalah HARAM.

    Reply
  2. para domba2 ht mulai berkoar2… sebenarnya mereka faham seutyhnya apa tidak dengan ajarannya?
    atau hanya ikut2an saja biar disebut sebagai aktivis khilafah…
    haddeeeh…

    Reply
  3. (Sesungguhnya seseorang apabila telah mampu melakukan istinbath, maka ia sudah menjadi mujtahid.) Maksudnya karena seorang mujtahid adalah orang yang mampu melakukan istinbath. Namun tentu saja melakukan istinbath hukum memerlukan sekumpulan ilmu dan kemampuan yang telah digariskan oleh para ulama semisal menguasai bahasa arab, ushul fiqih, hadits, tafsir, dll

    (Oleh karena itu sesungguhnya istinbath atau ijtihad itu mungkin dilakukan oleh semua orang dan mudah dicapai oleh siapa saja yang menginginkan) maksudnya setiap muslim punya kesempatan yang sama untuk menjadi seorang mujtahid atau melakukan istinbath jika dia sungguh-sungguh belajar dan mendalami syarat-syarat menjadi mujtahjd dan mengikuti jalan para ulama. Hal ini bukan berarti semua orang boleh berijtihad semaunya karena menjadi mujtahid atau melakukan istinbath hukum memerlukan syarat2 dan ilmu-ilmu yang harus dikuasai terlebih dahulu

    (lebih-lebih setelah buku-buku bahasa Arab dan buku-buku syariat Islam telah tersedia dihadapan banyak orang dewasa ini) karena majelis ilmu para masyayikh di zaman kita mudah untuk dihadiri, kumpulan kitab karangan para ulama dari berbagai cabang ilmu mudah di temukan, serta audio dan Video untuk di simak 24 jam juga tersedia.

    Teks-teka diatas jika dibaca pelan-pelan dan tanpa tendensi ketidaksukaan akan mudah dipahami, sehingga tidak mudah mencela sesama muslim..wallahu a’lam

    Reply
  4. Saya kira Arema dan saudara-saudara Ahlu sunnah dan yang tergabung dalam web ini harus melakukan tabayyun terlebih dahulu kemudian menulis artikel-artikel seperti ini, karena isinya adalah adu domba dan saling fitnah. Ingatlah bahwa tangan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak di yaumil qiyamah. Pertanyaannya, apa yang bisa Anda dan kalian pertanggungjawabkan di hadapan Allah jika sekiranya yang kalian sebarkan dan tulis dalam artikel ini adalah bohong belaka? Sadarlah dan banyak beristighfar karena sesungguhnya kebenaran mutlak itu hanyalah milik Allah. Wallahu a’alam.

    Reply

Post Comment