Khutbah Jum’at: Sikap Muslim Atas Aksi Demo 4 November 2016

SHARE & LIKE:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •  
Islam dan Muslim
Foto: FiqhMenjawab

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencurahkan karunia dan kenikmatan-Nya pada kita, sejak kita masih dalam perut Ibu, saat kanak-kanak hingga sampai detik ini Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak henti-hentinya mencurahkan karunia-Nya, baik kita balas karunia itu dengan taatnya kita menjalankan perintah Allah, maupun kita balas dengan malasnya kita menjalankan perintah-Nya dan bahkan lebih semangat mengikuti keinginan nafsu dan keinginan kita, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap saja mengucurkan karunia-Nya dan tidak langsung menghentikan kenikmatan-Nya kepada kita

Baik kenikmatan yang sifatnya dhohir maupun batin, khususnya kenikmatan Iman dan Islam, dan disempurnakan kenikmatan tadi dengan dijadikannya kita menjadi Umat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, Nabi Yang Paling Mulia diantara seluruh Para Nabi dan Rasul, hingga kita menjadi Umat yang paling mulia diantara semua umat, maka Sholawat dan Salam semoga tercurah kepada Beliau, Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta seluruh keluarganya yang suci dan seluruh Sahabat nya yang mulia, dan seluruh penerusnya hingga akhir zaman

Hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Saya wasiatkan khususnya bagi saya pribadi selaku khotib dan hadirin yang ada di Masjid ini, dan kepada seluruh umat Islam di manapun dia berada, untuk selalu meningkatkan Iman dan Taqwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada yang bermanfaat bagi kita selain ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun yang kita lakukan, kita miliki dan kita ucapkan, jika tidak bersandar kepada ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meski kadang tampaknya amalan akhirat, maka akan jadi sia-sia, kebalikannya jika segala sesuatu disandarkan dan asasnya dari ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mesti wujudnya amalan dunia, itu akan bermanfaat bagi kita, baik di alam dunia ini, alam barzakh, alam mizan, alam siroth, hingga alam akherat kelak

Hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Hari ini di tanggal 4 November ini, bisa jadi kelak akan menjadi hari yang dimasukkan dalam catatan sejarah di Negeri ini, hari ini saudara-saudara kita sedang mengajukan aspirasinya kepada pemerintah, terkait penistaan kepada simbol-simbol agama yang kita muliakan. Saudara-saudara kita itu berbuat demikian semua dikarenakan ada rasa ghiroh dan marah, saat Agama ini dilecehkan, maka permintaan mereka kepada pemerintah, agar kasus ini ditanggapi serius dan ada tindakan hukum bagi yang menistakan Agama.

Kita sebagai seorang muslim memang harus punya ghiroh, yaitu rasa cemburu dan cinta kepada Agama ini karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melebihi kecintaan kita kepada apapun dan siapapun, bahkan hal itu harus kita tanamkan di dalam hati sejak dini, agar menghujam didalam hati kita. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam kita, jika kita lebih mencintai yang lain selain kepada Allah , Rasul dan Jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AtTaubah ayat 24 yang berbunyi :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya :

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik“.

Tapi yang perlu kita ketahui adalah, bahwa letak “cinta dan ghiroh” itu ada di dalam hati, itu semua adalah amalan hati, sedang wujud dan penerapan Cinta dan Ghiroh itu bisa beragam, bisa lewat demo, sebagaimana yang dijalankan saudara-saudara kita saat ini, bisa dengan tulisan, bisa dengan ucapan, bisa juga dengan doa, yang intinya adalah adanya Suara Hati kita. Yang paling penting dan harus diperhatikan adalah, yang pertama niat harus karena Allah dan Rasul-Nya, dan yang kedua harus sesuai syariat. Misalnya syariat menyuruh kita patuh pada peraturan dan undang-undang suatu Negara, maka kita juga harus patuh dengan peraturan dan undang-undang negara itu, sebagaimana para ahli tafsir menyebutkan kepatuhan pada Ulil amri, dan tidak boleh melanggar syariat misal sampai merusak, anarkis atau melukai orang lain.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Jika ditanyakan bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim dengan kondisi yang demikian? Maka semestinya kita juga tidak tinggal diam, kita harus juga merasa terganggu jika ada orang yang menghina kemuliaan Islam, meski tidak harus dengan wujud demo, bisa dengan wujud yang lain, seperti yang saya sebutkan tadi. Kita yakin dan berkhusnudzon bahwa yang turun ke jalan hari ini sudah sesuai prosedur dan konstitusi yang ada, bahkan dari pihak pemerintah juga sudah merespon positif, apalagi yang turun ke jalan itu bukan orang sembarangan, mereka adalah Ulama-ulama, Guru-guru kita juga. Maka kita berdoa saja semoga petingi-petinggi negeri ini bisa benar-benar mengayomi warganya, menampung aspirasi rakyatnya, dan menegakkan supremasi hukum kepada siapa saja. Dan insyaALLAH kita percayakan dan kita kembalikan urusan itu kepada yang berwenang

Hadirin yang dirahmati Allah,

Sesungguhnya permasalahan yang lebih mengherankan justru reaksi yang berlebihan dari kedua belah pihak, ada saudara-saudara kita yang mungkin karena marahnya hingga keluar caci maki dan memperlebar permasalahan, kondisi ini diperparah dengan bumbu kepentingan politik dan kekuasaan, hingga sudah tidak karena Allah lagi. Tapi alhamdulillah Ulama-ulamanya selalu mengingatkan untuk fokus pada visi dan misi perjuangan, dan tidak belok kemana-mana.

Pada kubu tandingannya lebih parah lagi, demi membela terdakwa, ada orang-orang yang juga sesama muslim, justru selalu menghujat dan mencaci-maki saudara muslimnya hanya karena beda pandangan saja. Dan yang sangat mengherankan bahkan mereka tanpa segan-segan berani menghujat Ulama-ulama. Semua demi membela pendapat dirinya dan menjatuhkan pendapat lawannya, hingga fitnah dan cacian pun disebar di media-media sosial, sampai muncul kata-kata kotor kepada Ulama-ulama itu. Yang aneh, semua dijalankan atas nama MENYAMPAIKAN ISLAM YANG BENAR, ISLAM YANG RAHMAT.

Apakah bukan hal yang gila, mendakwahkan Islam yang rahmat dengan cara menghujat Ulama-ulama yang semestinya justru dijaga kehormatannya, bahkan yang seharusnya justru dibela dan dimuliakan?. Dari mana ajaran dan model dakwah semacam ini berasal?. Apakah mereka tidak pernah mendengar, kemuliaan seorang muslim? Bahwa ghibah kepada seorang muslim itu seperti makan daging saudaranya sendiri, itu seorang Muslim, lalu bagaimana dengan kemuliaan seorang yang berilmu?

Imam Ibnu Asakir berkata:

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa daging para ulama itu beracun, siapa saja yang melepaskan lisannya dengan cacian dan makian kepada ulama, maka sebelum mati Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat mati hatinya, maka jangan sekali-kali mencemarkan nama baik dan mem fitnah mereka”.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 9:

Katakanlah, apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak ber ilmu?”

Maka hadirin yang dirahmati Allah, hati-hatilah dalam mengambil langkah hidup kita ini, seorang yang cerdas tentunya mencari jalan yang lebih aman daripada yang penuh resiko, fitnah akhir zaman sudah sangat tampak sekali.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda: “Sebelum kiamat tiba, akan muncul tahun-tahun penuh tipuan, ketika itu orang jujur akan dianggap sebagai pendusta, sedang orang pendusta justru akan dipercaya, dan orang-orang bodoh angkat bicara” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam juga bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda kiamat adalah direndahkannya para Ulama dan diangkatnya orang jahat” (dari Sahih Al Hakim).

Hadirin yang dirahmati Allah,

Saat ini kita hidup di zaman dimana ucapan selebriti media lebih dipercaya daripada Ulama. Tulisan pengamat lebih dipegang daripada kitab, propaganda dan retorika lebih dipercaya daripada hujjah seorang alamah. Kita hadir di zaman dimana orang yang memperjuangkan yang haq akan dimusuhi, orang yang menjalankan syariat akan dibenci, orang yang menyampaikan kebenaran akan dicaci maki, dan kondisi semacam ini bertambah tahun akan semakin bertambah mengkhawatirkan, maka tidak ada yang akan membuat kita ini selamat kecuali kembali kepada Allah, kita lari kepada Allah, sudah cukup kita main-main dengan hidup ini, sudah cukup kita lalai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, pikirkan anak cucu kita kelak, jika kita masih terus menerus jauh dari Allah dan tertipu dengan dunia ini, terbawa arus hinanya dunia, lalu bagaimana dengan generasi anak-anak kita yang tentunya akan menghadapi hal yang lebih mengerikan lagi.

Semoga kita semua yang hadir di Masjid ini, keluarga kita semua, Guru-guru kita, orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, dan seluruh umat Islam, Umat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam di seluruh alam, dilindungi dari fitnah-fitnah akhir zaman, dijaga Iman dan Islam kita , dijaga Aqidah kita dalam Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, mencintai Ahlul Bait Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, mencintai Para Sahabat Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, mencintai Para Ulama dan mencintai saudara sesama muslim kita.

Disatukan hati kita sesama saudara muslim, meski beda dalam pandangan politik, pandangan faham, pandangan mazhab, namun tetap satu hati. Dan Allah membuang semua penyakit hati kita, membuang rasa benci kepada saudara sesama muslim, rasa iri, dengki dan hasad, hingga kita bisa saling memahami satu dengan yang lain nya. aamiin Allaumma aamiin

Oleh: Habib Umar Zein Assegaf, Solo, 3 Shafar 1438 H/ November 2016.

Tulisan berjudul Khutbah Jum’at: Sikap Muslim Atas Aksi Demo 4 November 2016 terakhir diperbaharui pada Thursday 3 November 2016 oleh Pejuang Ahlussunnah di Ngaji Yuk! - Kajian Ceramah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.


2 thoughts on “Khutbah Jum’at: Sikap Muslim Atas Aksi Demo 4 November 2016

Post Comment